1 Desember 2008. Di museum Stovia niatnya sih mau rapat peringatan Haul Tirto. Yach apa mau dikata jadwalnya molor, memanfaatkan waktu luang saya berjalan berfoto sana-sini, miniatur kapal VOC menarik hati saya untuk berfoto di depannya.
Kapal VOC ini menginggatkan saya akan sekolah mariner tempo dulu. Saya pernah membacainya di Panji Poestaka. Pegawai Marine Hindia Belanda itoe ada bangsa Eropa ada poela bangsa Boemipoetra. Lalu bagaimana para Bumiputra ini bisa menjadi seorang mariner? bukankah kala itu hanya segelitir orang saja yang bisa bersekolah? Lalu seperti apa sekolah mariner tempo dulu?
Kweekschool voor inlandsche schepelinge/Kweekschool buat awak Bumiputra ada tak jauh dari Makasar. Di tepi laut anak-anak yang akan menjadi awak kapal mendapat pendidikan. Marilah kita berjalan-jalan melihat-lihat sekolah ini. Jika kita masuk ke pintu gerbang, sampailah dihalaman sekolah dan tampaklah enam buah kamar yang besar, tempat tidur murid-murid. Tempat tidur itu dilengkapi kelambu untuk menahan nyamuk. Di dekat tempat tidur disediakan almari, dan papan untuk menaruh sepatu. Di antara kamar tempat tidur ada kamar yang lebar, tempat makan murid-murid. Ritual makan pagi akan dilakuakn pukul 6 pagi, pukul 8.25 para murid akan mendapatkan makan yang kedua, dan pukul 12,05 makan siang. Pukul 4.30 para murid mendapat makan lagi. Jam makan yang cukup ketat bukan.
Disebelah kiri kamar makan kita lihat kamar gymnastiek dengan perkakasnya. Dibelakang kamar gymnastiek ada tempat buat mengeringkan pakaian. Berhadapan dengan ruang pengeringan, diseberang tanah lapang, adalah tujuh buah bilik tempat pengajaran Bahasa Belanda dan berhitung. Letak bilik-bilik pengajaran ini ditepi jalan raya. Dan para staf pengajarannya adalah para lulusan diploma.
Kalau kita berjalan antara tempat mengeringkan pakaian dan kamar gymnastic akan kita temui rumah pertukangan, tempat murid-murid stoker dapat pengajaran.
Di depan tempat pertukangan ada pelabuhan kecil. Disanalah perahu-perahu kepunyaan Kweekschool dapat berlabuh. Di pelabuhan itu disediakan sebuah cerocok yang menjulur ke laut.
Mari kita berjalan lagi, dari panatai kesebelah belakang kamar tempat tidur. Kita lihat beberapa bilik buat wc dan kamar mandi. Tampak juga kolam renang yang disediakan untuk murid-murid. Setelah itu kita sampai ke dapur, yang letaknya tak jauh dari ruang tempat kesehatan, kalau sekarang UKS (unit Kesehatan Sekolah).
Bumipoetra ini bisa menjadi awak mariner bukan lataran lahir dari keturunan bangsawan. Apabila memenuhi segala syarat seperti sehat badan, cukup usia dan memiliki kepandaian maka peluang untuk menjadi awak kapal Boemipoetra (Inlandsch Schepeling) pada Marine terbuka luas. Perekrutan para calon pelajar mariner ini dilakukan oleh Depertemen Marine di Betawai dan Marine Kerzerne Goebeng di Surabaya, atau Commandant van de Kweekschool voor Inlandsche Sehepelinge di Makassar atau lewat perantara amtenar besting Boemipoetra Assistent-Resident atau Resident kepala Afdeeling. Bagi Bumipotra yang berminat silahkan mendaftar??***
Tuesday, December 23, 2008
Catatan Kecil: Marine Hindia
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
3:48 PM
0
comments
Labels: Peristiwa
Sunday, October 19, 2008
TESTIMONI:LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU
Di era Demokrasi Terpimpin (1959-1965), langit kebudayaan Indonesia dikuasai oleh Lekra dengan mengusung panji-panji agar semuanya diabdikan untuk mencapai tujuan revolusi yang belum rampung. Buku ini mencoba mengungkap kembali apa sebenarnya yang terjadi di era yang sarat gesekan itu. (Prof. Dr. M. Syafii Maarif, guru besar sejarah, cendekiawan Muslim dan mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta penerima Magsaysay Award 2008)
Buku ini menarik terlepas dari sumber tunggal yang digunakan;memberikan informasi mengenai situasi Indonesia dari sudut pandang Harian Rakjat. Bagi sejarawan, buku ini menjadi sumber yang sangat berguna kalau mereka mau melakukan penelitian lanjut tentang peranan suratkabar, terutama pada periode Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin. Oleh karena itu, terlepas dari setuju atau tidak, buku ini merupakan salah satu buku yang sangat penting. (Dr. Anhar Gonggong,sejarawan)
Kalau mau jujur, di masa Lekra-lah budaya kerakyatan itu menemukan "masa keemasan"-nya. Hidup dan sangat bergairah. Di sana kebudayaan diarahkan sepenuhnya pada pemihakan yang jelas-tegas kepada kaum yang tertindas. Apalagi konsepsi "seni untuk Rakyat" dalam konteks yang kongkrit itu didukung oleh koran progresif seperti Harian Rakjat. Jurnalisme yang terang-terangan memproklamasikan diri berpihak pada
kaum tertindas dan menentang secara terbuka filsafat-filsafat yang meracuni kebudayaan masyarakat. Koran ini juga yang dengan sadar menyediakan pentas seluas-luasnya untuk menampung pikiran-pikiran kebudayaan seperti sajak, esei, cerita pendek, drama, dan sebagainya,yang barangkali tak dimiliki koran-koran lain untuk masanya. Buku ini berusaha menunjukan bagaimana jalan kebudayaan rakyat itu dikelola
secara seksama dengan menampilkan kekayaan wacana, refleksi, perdebatan budaya, lepas dari soal bahwa kemudian ideologi itu salah atau benar. Maka buku ini patut dibaca agar kita bisa menajamkan kembali pikiran budaya kita yang tak terlepas dari kepentingan rakyat.Sebab selama tak ada pemihakan yang jelas, selama itu pula seni untuk rakyat tak ada. (Dr. Sindhunata, budayawan dan penulis sejumlah buku)
Buku ini penting dan menarik, sebab mencerminkan hasrat generasi muda negeri ini untuk menyusuri kembali jejak sejarah bangsanya dari perspektif yang berbeda. Yaitu, dari perspektif yang lebih terbuka, lebih kritis, lebih kreatif dan lebih bersikap positif terhadap rakyat. Di sini kelihatan bahwa jika dipercaya dan diberi kesempatan, rakyat Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk memajukan dan
memakmurkan bangsanya. Sayang sekali potensi itu telah dibabat oleh segelintir penguasa yang suka berkolaborasi dengan keserakahan modal asing sambil melayani kepentingan diri-sendiri. Buku ini dapat menjadi pendorong untuk menegakkan kembali kedaulatan rakyat Indonesia. (Dr.Baskara T. Wardaya SJ, Direktur PUSDEP, Pusat sejarah dan Etika Politik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta)
Sosialisme sebagai sumber pemihakan tani-buruh dan seni budaya pro rakyat jelata yang hilang paska 1965 kini hidup kembali. Buku ini memberikan kita jejak pemikiran dan kepedulian populis yang berbasis kerakyatan itu. (Dr. Mudji Sutrisno, penggiat budaya dan pengajar studi filsafat di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia)
Ini adalah terbitan yang memiliki makna penting bagi Indonesia di masa periode Demokrasi Terpimpin. Nilai dari buku ini adalah bahwa ia dengan sangat hati-hati menggunakan/mengumpulkan bukti untuk menyingkirkan mitos tentang Lekra yang muncul sebelumnya. Setelah buku Keith Foulcher tentang Lekra yang terbit pada 1986, tak ada lagi studi yang komprehensif tentang subjek yang paling penting ini, sehingga kita sangat berterima kasih kepada penulisnya yang memberi gambarannyang jelas tentang sejarah kebudayaan Indonesia. (Prof Dr Adrian Vickers, Professor of Southeast Asian Studies School of Languages and Cultures)
Riset ini membuka tabu; sebuah ruang ingatan yang ragu-ragu kita ketahui. Ragu karena trauma, ragu karena kegelapan, dan ragu karena hilangnya keberanian kritis untuk memeriksa masa lampau. Dengan caranya sendiri, serpihan tulisan ini mengantar kita untuk mengenal sebuah masa, tentang sebuah gerakan kebudayaan yang dengan keras kepala dan dengan kepercayaan penuh dipertahankan pemeluknya. Kisah tentang "the true believers". (Taufik Rahzen, ziarawan, kuratorsenirupa, dan penggiat festival)
(1) LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat
Penulis: Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan
Penerbit: Merekesumba, Jogjakarta
Terbit: Okt 2008, 581 halaman
Spesifikasi buku: 15 x 24 cm (tersedia softcover dan hardcover)
ISBN: 978-979-18475-0-6.
Harga (softcover): Rp 70.000; edisi hardcover dipesan ke 081-328690269
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
10:07 PM
6
comments
Telah Terbit: LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU

Telah terbit tiga buku dari riset Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan tentang gerakan kiri kebudayaan yang luar biasa bergemuruhnya selama 15 tahun menahan arus besar imperialisme modal dan intervensi asing (Amerika Serikat) hingga mereka sangsai di depan sejarah. Ketiganya adalah:
(1) LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat
15 x 24 cm; ISBN 978-979-18475-0-6; 581 halaman. Cetak massal dan bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat. Mengulas banyak hal dari sepuluh bab, seperti Garis Utama Ideologi Kebudayaan, Riwayat Harian Rakjat, Sastra, Film, Seni Rupa, Seni Pertunjukan (Ketoprak, Wayang, Drama, Ludruk, Reog), Seni Tari, Musik, dan Dunia Buku.
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
10:02 PM
1 comments
(2) GUGUR MERAH: Sehimpunan Puisi Lekra 1950 – 1965

Himpunan puisi ini adalah ikhtiar mengumpulkan sekira 450 judul puisi dari 111 penyair Lekra yang nama dan puisinya terekam di lembar kebudayaan Harian Rakjat sepanjang 15 tahun (1950-1965). 15 x 24 cm; ISBN: 978-979-18475-1-3; 966 hlm. Hanya tersedia dalam edisi terbatas (hardcover). Bisa dipesan ke 081-328690269.
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
9:59 PM
6
comments
LAPORAN DARI BAWAH: Sehimpunan Cerita Pendek Lekra 1950-1965

Buku ini merekam geliat 100 cerita pendek yang ditulis oleh eksponen budaya Lekra (sastra) untuk memberitahu bagaimana gaya realisme sosialis “ditemukan”, “diadaptasi”, dan “dipraktikkan” di lapangan kesusastraan Indonesia. 15x24 cm; ISBN 978-979-18475-2-0; 585 hlm. Hanya tersedia dalam edisi terbatas (hardcover). Silakan pesan ke 081-328690269.
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
9:55 PM
0
comments
Wednesday, May 7, 2008
Rumah Langit
Hei baru aku sadar bahwa sudah hampir satu bulan aku tiada menulis email untukmu. Ya terakhir aku memencet tuts keyboard komputer, merangkai huruf demi huruf menjadi kata, kalimat dan akhirnya paragraf untukmu adalah tanggal 6 bulan yang lalu. Selama itu sudah 3 kali kau memberiku email-email menyenangkan, khas dirimu. Sebenarnya bukan aku malas membalas, tapi lebih kepada, lagi-lagi kukakatakan aku tak tau harus berkata atau bercerita apa. Begitu beragam dan menarik semua ceritamu. Dan aku tertatih-tatih bahkan berlari terengah-engah untuk sekedar mengimbanginya. Yah meskipun kurang berhasil juga.
Baiklah mungkin itu adalah pleidoiku, karena tak kunjung aku berkirim surat via yahoo mail padamu.
Kau pasti tau kan jika kau menghubungiku lewat Indosat, salah satu tempat favoritku adalah jendela di ruang perpustakaan depan kamar para perempuan kroniek (perempuan kroniek? Sebutan yang aneh). Sebentar....belok dulu, ngomong-ngomong tentang Indosat...rasanya kita bagai dijajah oleh sebangsa penjajahan imperialisme modern, kita sebel, mangkel karna begitu sulitnya naudzubillah jika hendak menelepon murah. Yah kita sebut saja kasus 23––11. Jika PLN mencanangkan ingat 17––22, nah kita mungkin : jengkel sekaligus cinta kepada 23––11. Kembali pada jendela, (oiya kau tau novel Fira Basuki dengan judul itu – Jendela - , menurutku cukup menarik, meski tidak terlalu puitis), mbak Rhoma alias mbak Ria memberikan nama Rumah Langit. Nama yang indah. Lalu kenapa ia punya ide menamakan tempat itu Rumah Langit?
Karena disanalah kami yang terkurung dalam tembok Veteran 25 memiliki sebuah kemewahan langka... yah sebuah Jendela. Tidak istimewa jika benda yang sama aku miliki di Yogyakarta. Eh tidak bagiku jendela adalah istimewa. Kita melihat ke luar tanpa harus terlibat...di jendela kamarku aku biasa menghirup udara pagi dengan iringan...tentu saja bukan lagu Indonesia Raya, tapi lagu Sebelum Cahaya. Aku paling suka melakukannya setiap jamaah Subuh di Masjid Sulthony dekat rumahku telah kembali ke pelukan rumahnya di Bumi, setelah beberapa saat membangun rumah yang kelak diharapkan ditempati di akhirat yang kekal. Ah rumah betapa rindunya aku. Aku juga rindu pada rumahku di hatimu...kuharap kau juga begitu.
Lalu apa istimewanya Rumah Langit kami ini?disinilah mata-mata lelah kami bisa merasakan indahnya langit Jakarta yang tidak indah, yang warna birunya telah berubah menjadi putih. Laksana blue jeans yang kau rendam dalam larutan disinfektan. Tidak megapa tiada warna biru diatas kepala kami saat kami duduk nangkring di jendela itu, bahkan jika sekadar melongok keluar.
Taukah kamu?sebenaranya bentuk jendela ini sama sekali tidak istimewa. Hanya jendela kaca geser berbingkai alumunium selebar 2 meter yang terbagi dua. Salah satunya bisa digeser. Tingginya sekitar ¾ m lebih dari lantai (entahlah aku menyadari kelemahanku yang lain adalah tidak pandai memperkirakan jarak atau ukuran panjang atau lebar). Jadi jika kami ingin duduk di jendela kami harus memanjat rak buku di dekatnya (aduuh susah menjelaskannya). Tidak ada balkon indah diluarnya. Hanya ada pijakan dari beton selebar 10 cm. Jadi kami benar-benar duduk di jendela. Dibawahnya adalah atap asbes dari dapur kami dibawahnya. 3 meter dari jendela adalah tembok setinggi 4 meter pembatas antara deretan ruko di jalan Veteran dengan mabes AD tentu saja angkatan darat milik RI. Meskipun ada pembatas toh kami bisa melongok halaman markas tentara negeri kita ini jika berdiri lagi-lagi di jendela. Dari jendela jika kamu berpaling ke kiri berdiri dengan cueknya Monas lambang kejayaan bangsa ini di tahun 50-an. Ah lupa aku tentu saja juga terlihat bagian belakang dari rulo-ruko tetangga kami. Di depan kami selain markas TNI AD juga terlihat berbagai gedung yang aku tak tau apa namanya. Kalau menoleh ke kanan terlihatlah lagi-lagi bagian belakang ruko tetangga dan banyak gedung....oh ada yang menyala terang dengan hiasan lampu imut-imut yang membentuh atas rumah gadang. Itu adalah rumah makan padang di jalan Djuanda. Dibelakangnnya menjulang apartemen. Lalu jika melongok ke belakang, ah tentu saja ruang perpustakaan kami. Tepat dibawah kami ada 2 utas tali jemuran tempat kami manyantelkan baju-baju basah kami. Ugh beginilah kalo tempat yang ga didesain utuk rumah tinggal, ga ada areal khusus untuk menjemur pakaian, itu rutuk Tiesa.
Dari semua pemandangan biasa itu apa yang membuat kami suka berada di jendela?
Yah karena langit itu tadi. Ini adalah tempat paling sunyi dimana kamu bisa samar-samar melihat matahari di siang hari. Menikmati lembayung jingga langit sebelah barat di sore hari, dan jika beruntung melihat bulan di malam hari. Aha... dan tentu saja tempat paling menyenangkan menerima telepon dari seseorang yang spesial.
Rumah langitlah yang menjaga kewarasan kami. Dengan sekadar melongok melihat lagit kami merasakan indahnya langit di rumah. Mata kami sekedar rehat sejenak dari pemandangan dinding putih, komputer, tumpukan buku, dan koran. Karena rasanya damai dan menyenangkan di sanalah tempat kami merenung mendendangkan lagu-lagu kesayangan atau untuk beberapa temanku tempat memancing inspirasi keluar. Ya...inspirasi laksana siput yang bersembunyi jika dipaksa dipegang. Makanya menemukan cara bagaimana membuat sipput untuk tidak malu-malu keluar adalah sebuah berkah.
Lalu dari semua keistimewaan diatas semua ketidakindahan rumah langit apa yang membuatku menyukainya? Disanalah aku sekejap merasakan dekat denganmu. Saat pagi aku aku melihat lagit yang mulai terang, meski matahari tak tampak, aku berharap kaupun melihat lagit yang sama denganku. Saat sore mulai menyergap bumi, kuharap kaupun melihat sore yang sama denganku. Saat rembulan bermurah hati menampakkan senyumnya, aku juga berharap kau sedang menatap bulan. Jadi dalam dunia kosmik ku, aku anggap langitlah yang menyatukan kita....(tentu saja sebenarnya kita tinggal di bumi yang sama dan menghirup oksigen pula....tapi tolong jangan rusak suasana!)
Akhirnya aku berharap hatiku dan kamu disatukan oleh Langit dan diatas segalanya Sang Penguasa langit berkenan dan meridhoi untuk menjadikannya sebuah Rumah untuk kita....tempat kita merasa istimewa dan hangat.....seperti Rumah Langit kami yang sederhana tapi istimewa dan unik bagi hati kami masing-masing. (Cerita Teman sekamarku Winda Sano kepada “rumahnya hatinya” yang ku-edit ulang).
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
8:12 AM
2
comments
Labels: Peristiwa
Sunday, April 27, 2008
UNTOLD STORY
This is deeply moving story that emerge new insight of life and very sophisticated story because it comes from marginal and vulnerable people whose presence is being denied by the society at large. We often consider them as countless one, but they are too far from our attention, our caring and our compasionite heart. However, the story tells a lot about you, me and us all - how should behave and treat other people as just the way the are. The story goes like this: “One day he is planning to retire from his job. He told his employer-Contractor of his plans to leave the house building business and live a more leisurely life with his wife enjoying his extended family. He would miss his paycheck, but he needed to retire. They could get by.
The Contractor was sorry to see his good worker go and asked if he could build just one more house as a personal favor. The Carpenter said yes, but in time it was easy to see that his heart was not in his work. He resorted to shoddy workmanship and used inferior materials. It was an unfortunate way to end his career.
When the Carpenter finished his work the builder came to inspect the house, the Contractor handed the front-door key to the Carpenter. “This is your house,” he said, “my gift to you.”
What a shock! What a shame! If he had only know he was building his own house, he would have done it all so differently. Now he had to live in the home he had built none to well.
Reflecting on this story, I can sense that it was with us. We build our lives in a distracted way, reacting rather than acting, willing to put up less than the best. At important point we do not give the job our best effort. Then with a shock we look at the situation we have created and find that we are now living in the house we have built. If we had realized, we would have done it differently.
Think of ourselves as the Carpenter. Think about our house. Each day we hammer a nail, place a board, or erect a wall. Build wisely. It is the only life we will ever build. Even if we live it for only one day more, that day deserves to be lived graciously and with dignity. The plague on the wall says, “Life is a do it-yourself project.”
Who could say it more clearly? Our life today is the result of our attitudes and choices in the past. Our life tomorrow will be the result of our attitude and choices we make today.
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
11:45 PM
0
comments
Labels: Peristiwa
