In January 19,1999 Ambon and Maluku no longer become the city of "Manise" due to sectarian conflict among the local groups. Law and order was crippled, society was polarized into groups. Thus the violence become landscape of everday life in the city, and its really humanitarian tragedy. In the mids of these situation, Ambon Express as one of the latest news paper in the region exist. Actually from the name itself is not considering as new newspaper, because long before that there already exist the similar name which so called "Suara Maluku". Its expanding of Java Post Group, one of big local newspaper in Java Island. In fact they (two newspaper) are same, it is under one company, Java Post Group. But it can be said also that they are very different from each other, in sense that each group has its own managerial system. As Eriyanto stated, in the article entitled “Media dan Konflik (Media and Conflict)” that "Suara Maluku newspaper is being separated into two groups, such as, "Suara Maluku" and "Ambon Express".
It happens that since the social conflict spread out around the area, the society break through into different sectarian groups and people divided themselves according to the religion they belong to. Those who come from Muslim may not go to Christian community, and vice versa. Each group cannot interact or communicate each other and really being isolated from other group. This kind of situation gives great impact to the local media/newspaper especially in publishing daily information. They cannot publish the newspaper because the area was being banned by its own group not to enter into other area. However it is more complicated for the journalist especially for those who come from Muslim community to do their work normally because the main office of the Newspaper is located in Kampung (village)Halong Atas, one of Christian community. Instead of being banned from each group, some of their Muslim colleagues choose to establish Ambon Ekspress, and some are decided to leave Maluku island. For the group who established "Ambon Express", they continue their work by becoming freelance in other media,such as, Forum Keadilan Magazine, Republika, Jawa Pos, ect. But it is not take so long for them to go back to their first community to form their own newspasper, which they name it "Ambon Express".
To implement their idea, in following day, May 1999, the writer together with Machfud Waliulu (Vice General Manager/Chief of Finance Suara Maluku), Elly Sutrahitu (GM Suara Maluku) and Darmosius Sosebeko (Editorial Suara Maluku) made the meeting which was scheduled by Jawa Pos group. There were also the boss of Jawa Pos Dahlan Iskan and the director HM. Alwi Hamu. The result was agreement to establish a new newspaper, "Ambon Ekspress", so that the journalist can continuously express their idealism.
Ambon Ekspress first publication was on 12 July 1999 with the press license (SIUPP) from Junus Yosfia ni 1574/MENPEN/SIUPP/1999, 30 July 1000. The umbrella of the company was PT. Ambon Press Intermedia. The first time, Ambon Ekspress was located in the boarding house of Jalan Baru no 6, Ambon. Dahlan Iskan was elected as the Chair leader, meanwhile main commissioner HM. Alwi Hamu and director Syamsu Nur. The director of the company was Wachmud Waliulu, S.E, editor in chief is Drs. Ahmad Ibrahim, vice of chief editorial Ongki Anakoda, S.H and Hamid Kasim, S.E as the redactor.
Started as weekly magazine, Ambon Ekspress was printed in Makassar under collaboration with the printing company of Harian Fajar, Makasar. The oplah was 2.500 pieces.
The articles were sent from Ambon by fax and email, edited in Makasar, and after printed to be sent via the plane or express boat PT. Pelni. During first and half year Ambon Ekspress was quickly improved. And on Tuesday, May 10, 2001, Ambon Ekspress officially became daily and printed black and white in Ambon.
Since the beginning, Ambon Ekpress has great concern to the local issues including the previous conflict in Ambon. Some political figures stated that Ambon Ekspress is “in purpose” to provoke the society who are being trapped by the conflict. Coincidently, Ambon Ekspress who created by Muslim journalist was on the position of Suara Maluku competitor. Ambon Ekspress also signified as Islam representative newspaper.
During its consistency, press in Maluku always become the spot of the sample of conflict. Press also often to be positioned as the black goat. Furthermore, Suara Maluku-Ambon Ekpress case also positioned as the part of conflict lengthening. Though most of them understood hat the conflict was caused of many players involved. That is why in order to find the better composition of opinion, there should be certain indicator, so that the provocation standard from the media could be seen clearly, as well as the case of Ambon Ekspress.
In the meeting which was held at Hotel Salak, Bogor, February 2001, facilitated by Aliansi Jurnalis Indepen (AJI) Indonesia, under collaboration with the Asian of Foundation and BBC London, the attendance were from 42 journalist and the leaders of local mass media from Maluku and North Maluku. This meeting also attended by the Head of Press Board Atmakusumah and some other leaders, like a sociologist Dr. Imam Prasodjo, from Universitas Indonesia, Kapuspen TNI MArsekal Muda Gratio Usodo, Munir from human right activist watch, Maluku governor Dr. M. Saleh Latuconsina and Jawa Pos group boss Dahlan Iskan. That was the ‘judgment day’ of Ambon Ekspress.
During the event, the writer explained that “too subjective if it is said that Ambon Ekspress daily is neutral or not provoked during the conflict. All people realize that the conflict can caused social damage including our social systems, like the government, private sector, army/police, and mass media. Conflict exist not because of the media since it is happened before reported.”
In 2001 the following meeting was held in Surabaya, there the idea came up to combine this two media between Ambon Express and Suara Maluku. They decided that both have their own office but then the articles were united. The printing company (Suara Maluku has Harris mark and Ambon Ekspress has Collor Web mark), was placed on the neutral location. With this idea, the negative image of the conflict amongst media in Maluku will be eliminated. But, this idea was dropped down. Ambon had already become fragmented into sectarian groups based on the ‘religious’ issue, no neutral place. With his headache, Dahlan Iskan said, “How if we unite the machine and be called Al-Harris. Principally, machine has no religion, only human being has it?”(Rhoma Dwi Aria Yuliantri)
Saturday, March 29, 2008
FOR THE SHAKE OF AMBON "MANISE"
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
3:54 AM
0
comments
Labels: Koran
Wednesday, March 12, 2008
Untuk Dunia Buku

Siapakah orang paling berpengaruh dalam sejarah? Untuk menjawabnya, ada baiknya Anda buka Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah terbitan Pustaka Jaya (1982). Di buku itu, bertengger pada urutan 6 dan 7, Anda akan menemukan nama Ts'ai Lun dan Johan Gutenberg. Nama pertama adalah penemu kertas, sedangkan nama selanjutnya penemu mesin cetak.
Pada mulanya adalah kertas, ditera pada lembar-lembarnya huruf-huruf, digabungkan, diberi lem, dan di-binding, walhasil jadilah buku. Buku-buku disebar ke seluruh dunia, melewati sekat pembatas, menembus waktu. Berkat buku, kehidupan pada abad-abad yang lewat bisa hadir di hadapan kita: kini dan di sini. Dengan alur itu, tak heran bila Lun dan Gutenberg masuk dalam daftar pesohor pengubah sejarah. Bukankah sejarah lahir setelah ada tulisan, dan tulisan menjadi abadi tersebab kertas dan cetakan?
Begitulah, setiap berhadapan dengan buku, kita selalu berjumpa dengan ketakjuban-ketakjuban. O, apakah dunia buku kita sama menakjubkannya dengan buku itu sendiri? Tentu saja, Saudara. Cobalah buka dan baca Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia terbitan Yayasan Lontar bekerjasama dengan Weatherhill Inc., akan Anda temui betapa tradisi aksara di Indonesia jauh lebih awal dari yang dketahui.
Anda tentu tahu kalangon, seni menulis puisi dalam tradisi Jawa Kuno. Tradisi ini telah melahirkan antara lain Ramayana (abad ke-9) dan Arjunawiwaha (abad ke-11). Atau berkunjunglah ke Tanah Bugis, di sana ada puisi epik I La Galigo atau Sureq Galigo, naskah yang hingga kini merupakan salah satu yang terpanjang di dunia. Juga sempatkanlah mampir ke Bima, ada Bo' Sangaji Kai, buku catatan raja-raja Bima selama dua abad. Mengagumkan, bukan?
Tentu kekaguman pada warisan silam saja tak cukup. Yang lebih penting adalah meneruskan tradisi itu, mencatat perkembangan dunia menakjubkan tersebut sepanjang zaman. Untunglah, di antara sekian banyak yang tak peduli, MataBaca tampil mengemban tugas itu. Lima tahun sudah majalah ini merekam jejak belantara buku Indonesia.
Terbit perdana pada Agustus 2002, Mata Baca menjumpai pembacanya saban sebulan sekali. Majalah ini terbit berkat kerja mitra Bank Naskah Gramedia dan Penerbit IndonesiaTera. Bank Naskah Gramedia merupakan bagian dari industri buku terbesar negeri ini, Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang berkediaman di Jakarta, mewakili pusat, sementara IndonesiaTera berkantor di sebuah desa di Magelang, representasi penerbitan kecil di wilayah tengah Jawa.
Pada sebuah siang di tahun 2002, di Hotel Santika Yogyakarta perwakilan kedua penerbitan itu bertemu. Pihak Bank Naskah Gramedia diwakili Theodorus J. Koekerits dan penyair Joko Pinurbo. Sementara dari pihak IndonesiaTera datang Andreas Darmanto dan direkturnya yang juga penyair, Dorothea Rosa Herliany. Seturut pengakuan Joko Pinurbo dalam MataBaca vol V/No 1/September 2006, pertemuan itu berusaha "menindaklanjuti gagasan Frans M. Parera ... tentang perlunya segera menerbitkan majalah perbukuan yang isinya bukan sekadar warta perbukuan".
Barangkali benar pengakuan itu, bahwa gagasan majalah perbukuan tersebut merupakan gagasan Frans Parera, petinggi KKG. Karena itu kemudian namanya bercokol sebagai pemimpin umum. Sementara di antara mereka yang bertemu, Dorothea Rosa Herliany menjadi wakilnya, T. Jacob Koekerits menjabat pemimpin redaksi, dan Joko Pinurbo kebagian redaktur pelaksana.
Perihal nama MataBaca sendiri, keputusan untuk memakai nama itu, demikian Pinurbo, lebih dipukau oleh pesona puitiknya ketimbang makna leksikalnya. Pada mulanya adalah nama, setelahnya baru rasionalisasi terhadap nama itu. Kata Pinurbo, rasionalisasinya adalah "Mata perlu dididik dan dibudayakan agar semakin jernih dan tajam. Agar semakin mampu melihat dan menembus dimensi-dimensi yang lebih dalam di balik hiruk-pikuk peristiwa dan riuh-rendahnya perkembangan zaman. Agar semakin tekun dan pintar membaca. Bukan sekadar membaca buku atau deretan aksara, tapi juga membaca berbagai fenomena yang bersliweran di tengah pusaran kehidupan masyarakat."
Kerjasama kedua pegiat penerbitan itu menghasilkan karya apik: kekhasan perwajahan ala penerbitan Yogyakarta yang nyeni, seperti dianut juga IndonesiaTera, jelas terlihat. Sementara, karena dicetak oleh Percetakan milik Gramedia yang canggih, wajahnya jadi terlihat lebih cantik. Tak hanya perwajahannya, isinya juga informatif. Di antara rubrikasinya ada "Gagas" yang berisi opini seputar perbukuan, "Raut" tentang tokoh atau wajah suatu penerbitan, "Warta" berita dunia buku, "Kupas" merupakan resensi buku-buku yang baru beredar, dan "Renung", sebuah kontemplasi dengan puisi.
Pada edisi-edisi awal, pembaca bisa berpartisipasi mengisi semua rubrik tersebut. Walhasil, alih-alih menyodorkan satu tema tertentu dalam satu edisi, majalah ini nyaris serupa kumpulan tulisan terserak banyak orang. Belakangan, majalah ini punya beberapa kontributor yang menuangkan tulisan-tulisan bertema sama dalam satu edisi, mengurangi jatah tulisan pembaca.
Namun demikian, majalah ini selayaknya didukung. Setidaknya alasannya adalah dia satu-satunya yang mengkaver wajah perbukuan kita. Memang selain MataBaca ada "Ruang Baca". Namun "Ruang Baca" tak lebih dari suplemen sebuah koran dan nyaris hanya berisi kumpulan resensi semata.
Kesendirian tentu tidak bisa jadi alasan untuk tidak berbenah. Perubahan adalah hal niscaya. Seiring waktu, MataBaca pun tak bisa mengabaikan hukum alam ini. Namun perubahannya sedikit membuat kita tertegun: majalah ini menjadi lebih muda dan ngepop. Karenanya dalam rasionalisasinya Joko Pinurbo menulis, "majalah ini ingin lebih mendekat ke kalangan muda, ke mata-mata muda yang diharapkan dapat ikut menciptakan keindahan manusiawi di tengah kemelut kehidupan masyarakat yang lebih gelap mata dan membabibuta." Rasionalisasi yang jelas tidak tercetus ketika terjadi pertemuan Santika.
Perubahan sejak edisi September 2005 itu tak hanya pada perwajahan dan isinya yang lebih gaul, tapi juga mereka yang berada pada kursi redaksional. Orang-orang IndonesiaTera tak lagi duduk di sana. Dan hasilnya pun jelas: ciri nyeni ala penerbitan Jogja dengan tampilan lukisan yang semula menghias tiap edisi, terutama pada kaver depan, menghilang, diganti dengan pose penulis atau pemilik penerbitan yang direkam oleh jepretan fotografer, dengan judul yang jelas ngepop: "Pram, Gue Banget!", "Kalau Seleb Jadi Penulis", "Nggak Zamannya Lagi Penulis Miskin", "Sains Gak Ada Matinye". Judul-judul itu juga diupayakan mengikat tulisan-tulisan di dalamnya, terutama di bawah rubrik "Gagas Utama".
Mengapa IndonesiaTera tidak lagi berkecimpung mengelola majalah berjargon "Jendela Dunia Pustaka" (sebelumnya: "Mencermati Dunia Pustaka") ini? Tak ada penjelasan. Yang jelas, sejak merebaknya penerbitan di Yogyakarta dan sekitarnya pascareformasi 1998, musim surut menghantui semenjak tahun 2005-an. Konon, jumlah penerbitan di Yogyakarta waktu itu mencapai ratusan. Satu per satu penerbit Yogya itu jatuh. Beberapa yang namanya kadung besar, diakuisisi oleh penerbitan dari kota lain. Termasuk IndonesiaTera yang pada penghujung 2006 dibeli oleh distributor buku besar asal Jakarta.
Bertahan di negeri dengan minat baca rendah memang bukan pekerjaan mudah, tak hanya bagi penerbitan di Yogyakarta, tetapi juga penerbitan di kota lain. Bayangkan, buku yang dicetak 1000 eksemplar saja harus melewati masa bertahun-tahun agar bisa habis dipasarkan. Buku paling laris pun, dengan tema sensasional, hanya laku puluhan ribu eksemplar. Berapa persen jumlah itu dibanding penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa?
Kendala lain adalah pertarungan antarpenerbit yang nyaris serupa arena tarung bebas dengan hukum rimba: yang kuat memangsa yang lemah. Belum lagi harga kertas yang terus melambung, iklim pemasaran yang tak berpihak pada industri kecil, serta regulasi perbukuan yang tak jelas. Dan satu lagi: tak ada badan yang memayungi semua penerbitan itu. Alih-alih menjadi pengayom dan pembina, IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) punya syarat yang tak bakal genap dipenuhi penerbitan kecil.
Serta yang terpenting: badan ini menjadi semacam event organizer pameran buku semata. Peran lain nyaris tak ada. Misalnya, ketika penerbitan kecil punya masalah ketidaktahuan atau dalam posisi tawarnya membeli rights dari penerbitan luar, tak ada upaya IKAPI memberikan diklat atau menguruskannya. Ketika ada dua penerbitan, satu kecil dan satu besar, saling bertarung atas nama hak penerjemahan, tak ada usaha IKAPI menengahi. Juga ketiadaan regulasi yang jelas, tak ada tuntutan apa pun dari badan ini kepada pemerintah. Sampai kapan langit buku Indonesia akan tetap dikurung mendung?
Sebagai satu-satunya media perbukuan di negeri ini, tentu tak salah bila kita berharap MataBaca membantu menghapus mendung itu. Sebagaimana ide awal pendirian majalah ini, "majalah perbukuan yang isinya bukan sekadar warta perbukuan", mestinya ia juga punya fungsi advokasi bagi insan perbukuan yang nyaris tak bisa berkutik. Bila harapan ini dipenuhi, tentulah bisa majalah ini dimasukkan dalam daftar pemengaruh sejarah, setidaknya sejarah negeri ini.
Entahlah, Saudara, bila ia sudah menjadi penyuara penerbitan besar itu.(Rhoma Dwi Aria Yuliantri)
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
4:22 AM
5
comments
Labels: Koran
Thursday, March 6, 2008
Dari Jurnal ke LSM Profesional

Sepulang dari mengambil Master di Ecole Haute Etudes Scientifique Sociale, Prancis pada 1994, Gadis Arivia mengajar studi feminisme dan filsafat kontemporer di Universitas Indonesia. Saat itu, mahasiswanya mengalami kesulitan lantaran bahan-bahan bacaan berbahasa Indonesia tidak banyak ditemukan. Gadis pun membuat buletin, oplah pertama berbentuk stensilan (15-20 lembar) yang dibagikan kepada para mahasiswanya yang mengikuti kuliah ”Paradigma Studi Wanita” Universitas Indonesia, dicetak sekitar 200 eksemplar dan langsung habis.
The Ford Foundation, sebuah lembaga dana Amerika Serikat, tertarik dengan buletin berisi teori dan perkembangan feminisme itu. Lembaga itu bersedia mendanai dengan syarat harus ada legalitas secara hukum. Bersama Ida Dhani, Toeti Heranty Noerhadi, Asikin Arif, dan Gadis mendirikan badan hukum yang dinamai Yayasan Jurnal Perempuan. Modalnya hanya empat juta yang segera pula dikembalikan setelah yayasan berdiri.
Mereka berempat langsung bekerja. Awalnya, JP terbit pada bulan Agustus 1996, dengan ISSN: 0854-2481, beralamatkan di ruang belajar Gadis Jl. Taman Patra V/16, Jakarta 12950. JP muncul perdana dengan lebar 21 cm dan panjang 30 cm (berbentuk panjang, sekarang berbentuk seperti buku), seharga Rp. 9.200,- dengan 98 halaman. Atau harga langganan Rp. 36.000,- per tahun. Edisi tersebut menampilkan topik utama tentang kekerasan terhadap perempuan, judul artikel utama adalah ”Mengapa Perempuan Disiksa?”.
Kelahiran JP tidak pernah direncanakans ecara matang dengan tim yang terorganisir. JP lahir dari imajinasi, keinginan untuk memiliki bacaan yang serius tentang masalah perempuan. Imajinasi Gadis adalah menerbitkan majalah perempuan seperti dalam majalah Prisma, padat dan berisi. Sejak awal tulisan di JP mengambil arah ilmiah populer, yang dapat dicerna dengan mudah tetapi tidak dangkal dan tanpa refleksi.
Redaksi JP pada awalnya adalah orang-orang yang mau bekerja secara volunteer dan meluangkan waktu untuk mengedit atau menyumbangkan tulisan untuk JP. Redaksi JP baru mulai profesional pada awal tahun 1997/1998 dengan melakukan perekrutan, membuka lowongan redaksi. Dengan kriteria yang tidak terlalu ketat, menginggat terbatasnya pengetahuan studi gender waktu itu.
Distribusi JP pun mengalami kesulitan. Ketika itu, tidak ada orang yang tertarik membeli apalagi berlangganan JP karena tidak dianggap penting. JP pun terkadang ditolak orang pemasaran, tanapa melihat kualitasnya lebih dulu, karena dianggap kurang laku dan tidak akan diminati. Ada pula yang berkilah ”harus ada jurnal laki-laki dong, baru itu namanya adil”. Pendek kata, pada awal-awal JP terjadi banyak penolakan.
Ungkap Gadis: ’Kalau jurnal kami diterima di toko buku (pada waktu itu Gramedia yang terbesar) jurnal kami ditaruh di bagian belakang bersama buku-buku ”dan lain-lain”, atau masakan. Jadi, kami harus rajin mengontrol ke toko buku dan menaruhnya sendiri di rak-rak buku yang mudah dilihat orang secara diam-diam. Sering juga saya ke toko buku dam membaca JP dengan cara provokatif, lalu mengatakan kepada calon pembeli bahwa jurnal ini bagus, saya pelanggan setia, mereka tidak tahu kalau saya dari JP.”
JP menjadi lebih terkenal sebagai organisasi pada tahun 1998 ketika beberapa anggotanya, seperti, Karlina Supelii dan Gadis Arivia ditangkap karena demonstrasi Suara Ibu Peduli.
Pada perkembangannya, ternyata jurnal ini cukup banyak diminati khalayak, sehingga menuntut penanganan yang serius, terlebih isi dan kemasannya, oplah pun bisa ditembus hingga 5000 eksemplar. Hingga akhir Desember 2003 Jurnal Perempuan mencapai edisi ke-32 dan pada Maret 2007 mencapai 52. Jurnal berukuran sebesar buku biasa ini telah pula terdistribusikan hampir di seluruh toko buku ternama di Indonesia.
Dibiayai oleh sekian lembaga dana serta perusahaan nasional dan internasional, yang mengangsur sekitar 60 persen kebutuhannya, YJP berkembang menjadi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang kini diawaki lebih 20 orang. Tak hanya menerbitakn jurnal, yayasan ini juga menerbitkan buku-buku tentang feminisme dan gerakan perempuan. Salah satunya adalah buku Filsafat Berperspektif Feminis, reproduksi dari disertasi Gadis Arivia di jurusan Filsafat UI.
Selanjutnya di tahun 1998 YJP menerima tawaran dari Internews Indonesia untuk mencoba sebuah bidang yang baru dan penuh tantangan yakni memproduksi program radio bernama Program Radio Jurnal Perempuan (PRJP) yang mengangkat berbagai isu dan persoalan perempuan khususnya di tingkat lokal.
Bila Jurnal Perempuan yang formatnya seperti majalah Granta dan bertiras 2.000 eksemplar, dikhususkan untuk segmen menengah-atas dan akademisi, program radio (102 stasiun radio) ditujukan untuk segmen menengah ke bawah. Radio memang lebih mudah diakses bahkan oleh masyarakat di pedesaan. Murah, mudah, dan dapat didengarkan kapan saja sembari tetap beraktivitas.
Program Radio Jurnal Perempuan hingga kini tetap mengudara setiap minggunya dan menyapa pendengar di Indonesia bersama 162 stasiun radio mitra kerja YJP di seluruh pelosok tanah air. Hingga kini PRJP telah menghasilkan lebih dari 200 program yang menyuarakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.
Selanjutnya pada tahun 2000 YJP kembali menjajal bidang baru yakni pembuatan film dokumentasi. Divisi ini selanjutnya dinamai Video Jurnal Perempuan yang hingga saat ini telah berhasil memproduksi 3 film dokumentasi yakni “Kekerasan terhadap Perempuan”, “Perempuan di Wilayah Konflik” serta “Perdagangan Anak dan Perempuan”.
Selain lima divisi utama YJP yakni penerbitan Jurnal Perempuan, penerbitan buku-buku berperspektif gender, produksi Program Radio Jurnal Perempuan, pembuatan film dokumenter dan Program Jurnal Perempuan online, YJP juga memiliki 3 divisi pendukung lainnya: toko buku Perempuan, event organizer, dan Informasi dan Dokumentasi. Toko buku Perempuan beralamat di kantor di Yayasan Jurnal Perempuan dan buka setiap hari kerja. Di samping itu tim marketing YJP juga giat melakukan penjualan di pameran, bazar dan seminar-seminar bertema perempuan sebagai bagian dari strategi menjemput bola.
Departemen pengembangan YJP juga secara rutin menyelenggarakan event seperti diskusi rutin bulanan, kampanye, seminar, peluncuran buku, workshop dan training. YJP juga membuka kesempatan konseling bagi perempuan yang membutuhkan konsultasi, dan berbagai pihak yang membutuhkan berbagai informasi tentang isu-isu gender. Semua dalam rangka terus mensosialisasikan gagasan-gagasan gender kepada masyarakat.
Adapun acara-acara yang pernah diselenggarakan oleh YJP antara lain adalah kampanye untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan tiap tahunnya dalam rangka memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan, workshop perempuan di parlemen, kampanye stop perdagangan anak perempuan, training hak-hak perempuan, training gender untuk laki-laki, training jurnalisme berperspektif gender yang diselenggarakan tiap tahun, dan lain sebagainya.
Demikianlah, dari yang semula hanya menerbitkan jurnal, YJP berkembang menjadi sebuah LSM yang besar. Memang demikianlah idealnya: kerja pemikiran lewat jurnal diwujudkan dalam aksi nyata lewat gerakan. Ilmuan tidak lagi berdiri di menara gading, melainkan turun gunung membangun masyarakat.
Namun, dari penggunaan namanya, jelas yayasan ini menitikberatkan pada jurnalnya. Setelah delapan tahun usianya, Jurnal Perempuan makin mengokohkan diri di tengah gempita intelektual Indonesia yang semarak. Dan jurnal ini mampu bertahan di tengah kepungan budaya instan yang semakin pongah. Mungkin kebertahanan itu sebab ia jurnal dengan perspektif spesifik: feminisme.
Menu yang dihadirkan jurnal ini pun beragam. Isu kesetaraan perempuan dihembuskan tidak hanya lewat tulisan berat khas jurnal, tapi juga ada rubrik ”Sastra” yang berisi cerpen dan puisi. Di samping itu, juga ada ”Resensi” berisi info dan ulasan buku-buku bertema femisnisme terbaru.
Nyaris tak ada iklan di lembar jurnal berbandrol Rp. 19.000,- ini. Mungkin itu disebabkan jurnal ini banyak didukung funding. Bila berlangganan, jurnal yang terbit dua bulanan ini, berarti enam edisi dalam setahun, harganya menjadi Rp. 130.000,- untuk pulau Jawa, dan Rp. 160.000,- di luar Jawa.
Beberapa edisi telah habis di pasaran. Bagaimana bila ingin membacanya? Silakan datang ke Informasi dan Dokumentasi (Indok) YJP. Bagi Anda yang tidak mukim di Jakarta, bisa mengaksesnya di menu Indok pada situs www.yjp.or.id. Tapi akses itu tidak gratis. Anda dibebani biaya Rp. 25.000,- per tahun untuk membukanya. Biaya yang tak seberapa, dibanding ilmu yang bisa ditangguk dari dalamnya. (Rhoma Dwi Aria Yilantri/Indonesia Buku)
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
5:19 PM
1 comments
Labels: Koran
Tuesday, January 8, 2008
Jurnalisme Seribu Mata

Pada 29 Maret 1951, demikian sebut sebuah notulen berbahasa Belanda, sejumlah Jesuit berkumpul di Ignatius College Jogjakarta. Para Jesuit yang mengadakan vergadering itu antara lain J. Bakker, A. Djajasepoetra, J. Dijkstra, R. Soekarta, G. Vriens, dan P. Zoetmulder.
Hasilnya, sesuai anjuran superior missionis R.P.C. de Quay, SJ., rapat memutuskan untuk menerbitkan sebuah majalah sosial budaya, yang berkenaan dengan “pikiran-pikiran di bidang sosiologi, ekonomi, pendidikan, keluarga, dan bidang kemasyarakatan lain”. Rapat juga memutuskan bahwa majalah yang setebal 48 halaman dengan harga Rp. 7.50 per kuartal dan Rp. 2.50 per bulan itu, dipimpin N. Driyarkara.
Pada 14 Mei 1951 kembali diadakan rapat. Pada rapat kali ini terbentuk Badan Penerbit Basis sekaligus merundingkan anggaran dasar; yang kelak disahkan pada 2 Oktober 1952 dengan akta No. 7 notaris Tan A Sioe di Semarang. Badan Penerbit Basis diketuai A. Djajasepoetra, R. Soekarta sebagai bendahara, dan P. Zoetmulder redaktur. Begitulah, Basis kemudian dipimpin dua empu humaniora: N. Driyarkara dan P. Zoetmulder.
Basis yang terbit perdana pada 1 Oktober 1951 mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan. Menurut notulen 11 Januari 1955, tiras cetak Basis mencapai 3.280. Sebaran Basis waktu itu 1.755 di Jawa dan 1.420 di luar Jawa. Selain jaringan gereja Katolik dan masyarakat umum, pelanggan Basis termasuk juga Kementerian Agama dan Kementerian Penerangan.
Sejak awal, majalah Basis menjadi saksi perkembangan demokrasi di Indonesia. Basis bahkan ikut “meramaikan” pemilihan umum pertama 1955. Ada cerita menarik terkait dengan pemilu itu.
Pada 1954 Basis menerbitkan tulisan terjemahan berjudul “Pedoman Demokrasi untuk Rakjat”. Menjelang pemilu 1955, tulisan itu ternyata amat dibutuhkan. Basis kemudian memutuskan menerbitkannya kembali dalam bentuk brosur. Tidak tanggung-tanggung, brosur dicetak 25.000 ditambah cetak ulang 5.000. Karena harga yang dipatok untuk brosur itu terlalu kecil, yaitu 75 sen per eksemplar, ditambah lagi potongan untuk pembeli jumlah besar, Basis merugi Rp 1.500,00.
Namun kerugian itu ternyata tidak dipermasalahkan oleh pengurus, karena tujuannya dianggap luhur, yaitu memberikan pedoman bagi rakyat. Demikianlah, Basis sejak itu terus berkembang menjadi pedoman masyarakat atas persoalan-persoalan yang dihadapi dengan pemecahan mendasar. Basis berkhidmat menjadi “wacana yang memungkinkan manusia makin manusiawi”.
Kata “Basis” sendiri berarti “dasar” atau “fundamen”. Namun, bagi Basis, artinya tidak sekadar itu. Pada rapat 29 Maret 1951, para pendiri sepakat nama majalah nantinya “mengingatkan orang pada pengertian psyche nihae”, yaitu “jiwa”. Namun, karena waktu itu ada majalah bernama “Djiwa Baru”, mereka tak ingin membuat nama padanan. Untuk bertahan pada niatan semula, diputuskanlah nama “Basis”. Jadi, lebih dari sekadar “dasar” atau “fundamen”, Basis bermakna “kedalaman”, “kebatinan”, “prinsip kehidupan”, dan “spiritualitas”.
Harmonisasi unik antara dimensi “kemanusiaan” dan “spiritualitas” yang berujung pada “kedalaman” menjadi ruh dalam setiap sajian-sajian Basis. Tekanan pada “kedalaman” juga membuat nuansa filsafat mengental. Bukankah filsafat adalah inti atau sisi “kedalaman” dari semua pengetahuan?
Namun jangan harap Anda menemukan di majalah ini hal “mengawang-awang”, sebagaimana yang lazim ditemukan dalam filsafat. Di dalam isian berlangganannya, majalah dengan motto “Jurnalisme seribu mata: Basis menembus fakta” ini “berupaya untuk tidak hanya menyajikan fakta sebagaimana dilakukan media-media lain, tetapi juga membantu pembaca memahami fakta-fakta yang ada dalam konteks kehidupan bangsa ini, dihadapkan pada nilai-nilai lokal dan universal yang mestinya diikuti”.
Intinya, sebagaimana adagium salah seorang redakturnya sekarang, Frans Magnis-Suseno, titik berangkat Basis adalah “berfilsafat dari konteks”. Maka selain menekankan “kedalaman”, Basis juga amat mempertimbangkan kontekstualitas. Kontekstualitas ini malah terkadang harus berhadapan dengan tema ancangan yang disusun sejak awal tahun. Dikatakan, “Ancangan tema … dipegang secara fleksibel, artinya jika keadaan (sikon) bicara lain, tema dapat disesuaikan, bahkan diubah sama sekali.”
Tema-tema yang pernah diangkat Basis antara lain: tema pendidikan yang rutin muncul pada edisi Juli-Agustus, tema Inul dan seks yang muncul sebagai respons atas fenomena Inul dan larisnya buku Jakarta Undercover, tema tokoh filsafat (Habermas, Derrida, Foucault, dll) yang disesuaikan dengan kejadian dan respons filosofis sang tokoh atau ketika tokoh itu berulang tahun, tema agama (misalnya kekerasan atas nama agama dan sufistik), maupun hukum.
Majalah yang sekarang beroplah 5000 eksemplar ini juga dalam tiap tahun rutin mengadakan diskusi terbatas. Pesertanya adalah internal Basis, undangan, dan para intelektual yang memaparkan wacana tertentu. Tema diskusi biasanya tema yang sedang hangat dan butuh kupasan lebih jauh. Misalnya tema keluarga ketika fenomena deagamisasi keluarga menguat dan tema agama terkait pertanyaan di akhir buku Karen Armstrong Sejarah Tuhan, “apakah agama punya masa depan?” Makalah dan hasil diskusi itu yang kemudian diterbitkan dalam suatu edisi.
Rubrikasi Basis sendiri tidak baku. Redaksi yang berkantor di penerbit Kanisius Jogjakarta sendiri hanya menyiapkan dua rubrik, yaitu “Tanda-tanda Zaman” dan “Bayang-bayang”. “Tanda-tanda zaman” yang ditulis Sindhunata, pemimpin umum dan pemimpin redaksi sekarang, adalah prolog, untuk membantu pembaca masuk dalam konteks bahasan keseluruhan. Sementara “Bayang-bayang” yang disiapkan oleh A. Sudiarja, dimaksudkan sebagai “sisi lain” setelah pembaca mencermati seluruh tulisan. Kalau “Tanda-tanda Zaman” hadir sebagai tulisan paling depan (hlm. 3), “Bayang-bayang” di halaman paling akhir. “Tanda-tanda Zaman” rutin menjumpai pembaca di setiap edisi, namun “Bayang-bayang” kadang muncul kadang istirahat.
Tulisan lain diserahkan kepada masyarakat umum. Rubrikasi juga disesuaikan dengan tulisan yang masuk. Namun demikian, terkadang dalam suatu edisi tak ada sama sekali tulisan dari masyarakat. Maka seluruh tulisan sudah pasti dikerjakan pemimpin redaksi Sindhunata. Meski begitu, karena bobot tulisan penulis serbabisa ini tidak diragukan lagi, dengan tema merentang dari teologi hingga sepakbola, dari cikar bobrok hingga mal, masyarakat tetap saja setia berlangganan.
Selain sesak dengan senarai tulisan, majalah dwibulanan ini juga menyajikan foto serta gambar di sedikit lembarannya. Foto atau gambar bisa dikirimkan siapa saja. Namun yang terbanyak adalah reproduksi dari majalah berbahasa Jerman Der Spiegel. Iklan hanya menghiasi sampul belakang, serta sampul depan-dalam dan belakang-dalam. Iklan hampir tak pernah dijumpai di lembaran isi, meski itu dimungkinkan dengan membayar tidak begitu mahal dibanding majalah lain.
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
5:52 PM
0
comments
Labels: Koran
Thursday, July 19, 2007
Panjimas: Penyambung Lidah Tradisi Islam Reformis
Pandjimas lahir seiring maraknya wacana reformasi Islam yang dihembuskan Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasydi Ridha. Kala itu, banyak media massa berafiliasi karib atau bahkan menjadi penyuara pelbagai organ pergerakan Islam.
Di Singapura, terbit al-Iman pada 1906 di bawah Syekh Muhammad Tahir bin Jalaluddin al-Minagkabawi al-Azhari, al-Munir terbit di Padang (1911-1916) di bawah Abdullah Ahmad, Sjarekat Islam punya al-Islam (1913), Sarotama SI Solo yang kelak menjadi Sarotomo (1914 dan 1916), Sinar Djawa SI Semarang (1914), Teradjoe SI Palembang (1919), Doenia Moeslim terbitan Bukittinggi (1921), an-Noer atau Het Licht-nya Jong Islamieten Bond (1925), Pembela Islam kepunyaan Persis (1931), Panji Islam milik Zainal Abidin Ahmad, dan Pedoman Masjarakat di bawah Hamka dan M Yunan Nasution yang terbit di Medan pada akhir 1930-an, disusul Kiblat, Gema Islam, dan Pandji Masyarakat atau Pandjimas.
Tren itu terus berlanjut hingga Indonesia menerapkan demokrasi pada dekade 50-an. Namun, Pandjimas bersama al-Iman dan al-Munir menyempal dari tren itu. Pandjimas merdeka dari organ pergerakan, aliran, mazhab, atau paham keagamaan mana pun yang bertunas atau mapan di Tanah Air.
Secara eksplisit, ia mengajak pembacanya untuk tidak terikat, apalagi sampai taklid, kepada sesuatu mazhab dan aliran pemikiran Islam. Sebaliknya, Pandjimas mendorong pembacanya untuk mengembangkan ijtihad dan pemikiran independen.
Pemerintah murka dengan sikap Pandjimas. Tapi bukan oleh pandangan keagamaan yang dibawa Pandjimas, melainkan lantaran memuat secarik artikel berkepala “Demokrasi Kita” tulisan Mohammad Hatta. Pandjimas pun dibungkam pada Mei 1950.
Hatta dalam artikel itu menujum bahwa sistem kekuasaan ototarian tidak akan bertahan lama, paling-paling seumur penciptanya. Bagi Soekarno, pemuatan artikel itu kesalahan besar. Walhasil, meski tidak berafiliasi pada satu kekuatan politik dan justru memasyhurkan prinsip demokrasi, Pandjimas dipaksa tutup.
Sejak pertama terbit hingga dibredel pada Mei 1950, lalu diterbitkan kembali pada awal 1967 hingga menjelang akhir 1970-an di bawah pimpinan Moh. Faqih Usman dengan dibantu Dr. H. Abdulmalik Karim Amrullah dan Jusuf Abdullah Puar, langkah Pandjimas tertatih-tatih. Apalagi, majalah ini identik dengan sosok Hamka. Karena itu, setelah Hamka mangkat pada 23 Maret 1980, ia semakin limbung. Namun, ia masih sempat terbit sekali lagi pascareformasi. Rusdi Hamka, putra Hamka, meneruskan langkah Pandjimas.
Pandjimas secara profesional pernah menyiarkan tulisan yang tidak sependapat dengan garis redaksinya. Saat terbit lagi untuk kedua kalinya, ia syiarkan tulisan kontroversial Nurcholish Madjid atau biasanya disapa Cak Nur pada 1970-an. Penyiaran itu mengisyaratkan ruang intelektual yang mengakomodasi dialektika berpikir. Salah seorang penentang gigih gagasan-gagasan Cak Nur adalah H.M. Rasjidi, penulis buku Koreksi Terhadap Drs. Nurcholis Madjid tentang Sekularisasi (1972). Rasjidi sendiri salah seorang redaktur Pandjimas.
Penyiaran itu beresiko. Gagasan Cak Nur bertentangan dengan bukan saja garis redaksi, melainkan juga dengan para pembaca dan umat Muslim Indonesia. Para pembaca yang murka bisa saja meninggalkan Pandjimas. Namun, dengan pemuatan itu, Pandjimas justru membuka suatu corak baru intellectual discource di Indonesia. Bukan saja dalam wacana Islam tetapi juga dalam wacana demokrasi. Wacana yang mau dikembangkan Pandjimas respek terhadap pluralitas, perbedaan pendapat, dan kebebasan bersuara.
Penyiaran wacana demikian, menurut Azyumardi Azra, sejarawan sekaligus mantan wartawan Pandjimas, sebentuk komitmen terhadap nilai universal Islam, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan. Pandjimas senantiasa menegakkan komitmen itu meski harus bersitegang dengan rezim kekuasaan dan umat Muslim yang tidak siap.
Demi prinsip dan komitmen itu, dan sebagai langkah menyebarkan reformasi dan modernisasi Islam, Pandjimas menerapkan pendekatan yang unik. Ia enggan menapak jalan juang organisasi dan politik dan justru memilih jalan kebudayaan. Sikap ini tentu tak lepas pengaruh Buya Hamka, ulama-sastrawan yang secara konsisten emoh mencebur ke dalam riuh politik.
Pendekatan itu tepat dan realistis. Orde Lama dan Orde Baru menghimpit ruang gerak semua organisasi politik keagamaan. Kekuatan politik aliran ditekan dan dikutungi. Agenda umat Muslim di jalur politik macet. Sekali diberi ruang, politik keagamaan malah bertiwikrama menjadi fundamentalisme yang destruktif.
Komitmen itu terwujud lantaran segmen pembaca Pandjimas kelas menengah ke atas, baik secara intelektual maupun finansial. Pan Asia Research & Communication Service (1984) menuturkan, pembaca Pandjimas umumnya berusia dewasa (adolescent) dan dewasa muda (young adolescent) dengan latar pendidikan SLTA ke atas. Segmen pembacanya pegawai pemerintah dan swasta (32%), pemimpin nonformal (22%), pedagang dan petani (20%), mahasiswa dan pelajar (13%), kaum ibu (6%), dan kalangan lain (7%).
Para pembaca yang terdidik itu umumnya punya kedudukan strategis di lingkungan masing-masing. Mereka juga lebih siap bermuka-muka dengan pluralitas dan kebebasan bersuara, lain dari penguasa tiranik yang pernah membungkam Pandjimas.
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
11:49 PM
0
comments
Labels: Koran
Pujangga Baru: Penggerak Etos Kebudayaan
Tenteram dan damai?
Tidak, tidak Toehankoe!
Tenteram dan damai waktoe tidoer di malam sepi
Tenteram dan damai berbadjoe poetih di dalam koeboer
Tetapi hidoep ialah perdjoeangan
Perdjoeangan semata laoetan segara
Perdjoeangan semata alam semesta
Hanja dalam berdjoeang berkobar
Engkau Toehankoe di dalam dada
(PB, Juli-Agustus 1940)
Sutan Takdir Alisjabana atau biasa ditulis STA adalah budayawan, sastrawan, dan cendekiawan terkemuka. Bersama Armijn Pane dan dibantu Amir Hamzah, STA menerbitkan Pudjangga Baru pada Juli 1933. Lahirnya majalah Pudjangga Baru menjadi penanda hidupnya gelombang kesusastraan dan kebudayaan Indonesia modern.
Pada tahun-tahun awal terbit, Pudjangga Baru mengusung jargon “Madjalah kesoesasteraan dan bahasa serta keboedajaan oemoem” dan kesusastraan masih menjadi lokomotif. Maklum saja, para pendirinya adalah sastrawan. Amir Hamzah seorang penyair, sementara Armijn Pane dan STA adalah prosais.
Poejangga Baru pun menjadi magnet dan sekaligus gelanggang baru bagi penulis-penulis kreatif angkatan baru. Di gelanggang ini, memang cuma segelintir orang. Namun dalam sejarah sastra, justru nama-nama mereka tiada lekang. Pudjangga Baru yang menjadi medan kreatif itu pun hanya beroplah sedikit, yakni 150 eksemplar dan dicetak sebulan sekali. Jumlah oplah itu sejumlah pelanggannya yang sebagian besar berasal dari golongan intelektual. Harga langganan sekwartal 4.50 sen atau eceran sebesar 1.50 sen.
Namun ajeknya nama-nama yang berhimpun di Pudjangga Baru bukanlah ditentukan berapa ribu pengikut fanatik dan berapa oplah cetak, tapi oleh kedalaman pikiran. Tentu siapa pun pembaca sastra Indonesia tak pernah melupakan nama-nama seperti Idrus yang dikenang lewat karyanya Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948), Amir Hamzah dengan Nyanyi Sunyi (1937), Sanusi Pane dengan Madah Kelana (1931), Rustam Effedi, J.E Tatengkeng, Muhammad Jamin, Suwandhi, Nyoman Panji Tisna, Hr. Bandaharo, Asrul Sani, Mochtar Apin, Aoh Kartahamadja, Rivai Apin, A.A. Katili, Achdiat K Mihardja, dan Dr. M. Amir. Kesemuanya adalah penulis-penulis yang lahir dan besar bersama Pudjangga Baru.
Di antara sederet kecil nama itu, nama STA tetap menjadi ikon dan nyawa bagi Pudjangga Baru. Jajaran redaksi kerap mengalami pergantian. J.E Tatengkeng, Bugroho, L.S. Sitorus adalah nama-nama yang pernah merasakan kursi redaksi. Tapi bandul pemikiran tetap dipegang STA.
Lewat Pudjangga Baru pula STA mengguncangkan sastra Indonesia dengan konsep estetika puisi modern yang diusungnya. Ia menolak sastra lama yang dianggapnya usang dan membosankan. Menurutnya, sastra lama hanya memberikan kebebasan statis. Tak pelak lagi, reaksi bermunculan. Yang menarik, justru konsep STA itu banyak diikuti oleh penyair yang kala itu memang menginginkan arah baru bagi pengucapan puisi Indonesia.
Tapi belum selesai dengan etestika puisi modernnya, STA kembali mendorong arus polemik besar dengan mengajukan konsep kebudayaan persatuan Indonesia. Kalau dua tahun pertama, Pudjangga Baru masih berkutat pada persoalan kesusastraan, tahun ketiga (Juli 1935) wacana kebudayaan diperluas. Jargonnya pun berubah: “Pembawa semangat baroe dalam kesoesasteraan, seni, keboedajaan, dan soal masjarakat oemoem”.
Artikel STA yang menggemparkan itu bertajuk: ‘Menudju Masjarakat dan Kebudajaan Baru’: …bahwa dalam kebudayaan Indonesia jang sedang terdjadi sekarang ini akan terdapat sebagian besar elementen Barat, elementen jang dynamisch. Tetapi meski bagaimana sekalipun tidak enak bunjinja semboyan, bahwa kita harus beladjar pada Barat, meski bagaimana sekalipun sedih ahti kita memikirkan hal yang demikian, dalam hal ini rasanja kita tidak dapat memilih. (PB, Agustus-September 1935)
Artikel ini bukan hanya menyuruh melihat Barat sebagai pusat kemajuan, tapi juga menyangkal habis-habisan bahwa kebudayaan Indonesia memiliki akar sejarah yang kukuh. Sastra Indonesia tak punya sejarah, maka tak ada konsep sastra nasional. Kebudayaan Indonesia tak punya sejarah, maka tak ada itu kebudayaan nasional. Yang kita punyai adalah kemajuan. Dan kemajuan itu adalah Barat. Maka berkiblatlah ke sana.
Artikel keras itu tak pelak lagi melahirkan polemik. Tak hanya bertarung di Pudjangga Baru, tapi polemik merembet ke koran lain, seperti Soeara Oemoem (Surabaya), Bintang Timoer (Jakarta), Pewarta Deli (Medan), dan Wasita (Yogyakarta).
Tulis lawan S.T. Alisjahbana, Sanusi Pane, yang berusaha melakukan sintesis: Barat, seperti sudah kita lihat, mengutamakan djasmani, sehingga lupa akan djiwa. Akalnja dipakainja menaklukan tenaga alam. Ia bersifat Faust, ahli pengetahuan (Goethe), jang mengorbankan djiwanja, asal menguasai djasmani.
Timur mementingkan rohani, sehingga lupa akan djasmani. Akalnja dipakainja mentjari djalan mempersatukan dirinja dengan alam. Ia bersifat Ardjuna jang bertapa di Indrakila.
Haluan jang sempurna adalah menjatukan Faust dengan Ardjuna, memesrakan materialisme, intellectualisme dan individualisme dengan spriritualisme, perasaan dan collectivisme. (PB, 1935)
Selain Sanusi Pane, ada Adinegoro pimpinan Pewarta Deli; Ki Hadjar Dewantara pendiri Taman Siswa di Djogja; Dr. R.M. Ngb. Pubatjaraka lulusan doktor dan filsafat Leiden; Dr. Sutomo pendiri Budi Utomo dan Indonesische Studieclub; Tjindarbumi pimpinan redaksi Soeara Oemoem; dan Dr. M. Amir yang terkenal sebagai psikiater.
Polemik pemikiran kebudayaan itu adalah akar polemik yang sehat. Polemik ini pula dikenal sebagai polemik yang mengedepankan nalar, sopan santun dalam menulis, serta penghormatan atas perbedaan, ketimbang kekuatan dan gertak-menggertak. Polemik yang kerap disebut sebagai ‘Polemik Pudjangga Baru’ itu tak hanya membenturkan wacana Barat-Timur, tapi juga menegaskan ke mana arah kebudayaan Indonesia hendak berayun.
Dan STA adalah penggerak aktif perumusan arah kebudayaan kita itu. Ia tak mesti punya pengikut yang banyak. Cukup dengan majalah beroplah 150 eksemplar, pikiran dan karya-karya yang muncul di zaman ini mampu menjadi karya-karya klasik yang abadi.
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
11:39 PM
0
comments
Labels: Koran
Si Kuntjung Milik Anak Indonesia
,,......Kuntjung" selalu mendengung di telingaku serta meresap di hatiku sejak aku ketjil. Perubahan-perubahan dalam madjalah ini telah banjak dilakukan. Tiap-tiap hari Rabu dengan setianja Si Kuntjung selalu hadir di tengah-tengah kami. Kurasa isinja makin menarik dan mengesankan. Tahun lalu betapa senangnja hatiku setelah aku mengetahui bahwa aku telah lulus udjian SD dengan memuaskan. Hal ini berkat kesetiaanku mengerdjakan soal-soal jang tertjantum dalam "Nilailah Ketjakapamu" seperti jang diandjurkan bapak guruku. Djuga karangan-karangan jang termuat dalam Si Kuntjung telah banjak membantuku untuk belajar mengarang......" (Si Kuntjung, No. 27 1970)
Itulah pengakuan S. Hartono, pembaca setia Si Kuntjung. Arswendo Atmowiloto dan Profesor Sudjarwo pun mengakui bacaan anak itu sebagai bacaan yang punya peran dalam proses menulis mereka.
Majalah bulanan anak Si Kuntjung terbit sejak 1 April 1956 dan diasuh Sudjati SA. Izin terbitnya No. 00367/U/SK/BPHM/SIT 1965 tanggal 21 September 1965, SIP. No. 020/F/S-9/5 tanggal 8 Januari 1966 dan Izin Peperda Np. Kep. 035 P/X/1965 Nomor Urut 5.
Harganya Rp 1,50, - dan berkantor di Djl. Madura 2, Djakarta III/2. Si Kuntjung dicetak PT. Kinta (Kertas Tinta), yang kelak juga mencetak Intisari dan Kompas. Sasaran pembacanya anak-anak usia sekolah rakjat (SD). Namun, kenyataannya Si Kuntjung juga menjadi bacaan anak lewat orangtua.
Pemberitaan Si Kuntjung bermutu dan menghibur, terdiri dari cerita bersambung, dongeng, seni, budaya, ilmu pengetahuan, teka-teki hingga latihan soal-soal pelajaran. Tak heran jika majalah ini kemudian menjadi majalah anak yang direstui pemerintah. Pada dekade 50-an, ia beroleh tanggapan serius Kepala Bagian Naskah dan Madjalah Kem. PP. Dalam sepucuk surat bertanggal 1 Desember 1956 No. 132/IBD/1676, Si Kuntjung dianjurkan sebagai bacaan anak-anak sekolah rakjat.
Kepercayaan pemerintah kepada Si Kuntjung rupanya awet. Pada 1969, Gubenur/Kepala Daerah khusus Ibu Kota menghadiahkan terbitan Si Kuntjung setiap edisi buat setiap SD di wilayah DKI. Hadiah itu disalurkan lewat Dinas P & P Sukudinas Wilayah. Kemudian dianjurkan pula Si Kuntjung ditempel di dinding masing-masing sekolah agar menjadi wahana bacaan anak.
Saat terbit kali pertama, sampul dan isi Si Kuntjung dicetak di kertas koran. Si Kuntjung juga punya Koran Ketjil, yang dikelola Wartjil (wartawan ketjil) dan Juwarlik (juru warta tjilik).
Majalah yang bermotto Madjalah Pendidikan dan Kebudayaan Bacaan Sekolah Dasar ini menyuguhkan informasi singkat tentang peristiwa-peristiwa aktual, seperti "Kolera di Indramaju", "Stan Vak Sumbang Borobudur", "Dr. Ir. Soekarno Wafat", "Brasil Djuara Dunia", dan berita teranyar lainnya yang dikemas dalam satu lembar halaman.
Ilustrasi Si Kuntjung terbilang nyeni untuk ukuran anak-anak masa itu, karena "realistis". Anak-anak yang belum bisa membaca pun akan tertarik kepada Si Kuntjung. Pada dekade 80-an, majalah anak ini dicetak full colour, sedangkan kertasnya bertambah luks dan tebal.
Cerita bersambung adalah rubrik yang paling ditunggu pembaca. Redaksi menyiapkan cerita itu dengan sangat matang. Sebulan sebelum cerita bersambung tamat dan diganti cerita baru, redaksi memberitahu pembaca, lengkap dengan informasi singkat tentang cerita pengganti. Rubrik bermutu lain"Tahukah Kawan", semacam ensiklopedi tentang keajaiban dunia, tempat-tempat, atau peristiwa-peristiwa penting. Misalnya:
...Sebuah Museum Etnologi di Berlin jang berisikan benda-benda kuno dari berbagai pendjuru dunia, telah menempatkan wajang Indonesia dalam ruangan bagian Asia Selatan. Museum ini resmi dibangun tahun 1873. Sekarang mempunjai sedjumlah 330.000 kumpulan benda. Sedjumlah 5000 kumpulan terdapat dalam tiga bagian: Benda Asli Amerika, Asia Selatan, dan Lautan Selatan." (Si Kuntjung, No. 27 1970)
Cerita-cerita orangtua kepada anak menjadi semakin bervariatif dengan bantuan cerita-cerita Si Kuntjung. Lain dari itu Si Kuntjung juga mengajak anak-anak ikut serta dan aktif dalam pelbagai rubriknya, seperti dalam "Kota Wasiat", rubrik yang menampung pengalaman yang ditulis anak-anak.
Seiring dengan kemunculan banyak majalah anak lain seperti Bobo, Mombi, Kawanku, Girls, dan Orbit, Si Kuntjung pelan-pelan tergeser dan akhirnya berhenti terbit.
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
10:00 PM
1 comments
Labels: Koran
Thursday, March 29, 2007
Sinar Djawa: Antara SI, Semaoen, dan Radikalisme Pers

“Sama Rata Sama Rasa”. Menyebut kalimat itu, asosiasi langsung ke alamat gerakan bernasib paling kelam dalam sejarah Indonesia, yakni PKI. Padahal, kalimat yang merupakan judul artikel itu merupakan respons atas kekuatan-kekuatan internasional yang bermain di Nusantara. Penulisnya adalah Mas Marco dan pertama kali disiarkan Sinar Djawa sebagai headline pada 16 April 1918.
“Selama kita masih mempoenjai kesabaran, tentoe hal jang koerang menjenangkan itoe tida akan kedjadian, tetapi kalau kesabaran itoe sudah lenjap, barang kali tida djarang kalau semoea anak Hindia mempoenjai tekat dan berkata: HILANGE TANAH DJOWO BARENG KARO PATIKOE!! (tanah Hindia hilang dari tangannja anak Hindia, dia orang mati).
Di sitoe barang kalai waktoenja anak Hindia mati semoea dan Belanda jang ada di tanah kita tida hidoep lagi! Siapakah jang oentoeng? Jaitoe orang Djepang jang soedah lama kepingin gandengan dengan poeteri jang amat molek parasnja si tanah Djowo. Kalau betoel kedjadian begitoe, tentoe kita sekalian dikatakan orang sama gilanja, karena tida soeka hidoep roekoen, tetapi lebih baik mati bersama-sama!” tulis Marco.
Sinar Djawa memang dikenal sebagai suratkabar kaum progresif yang berisi kritik dan kecaman terhadap pemerintah dan sekaligus corong Sarekat Islam (SI) dalam upaya mempropagandakan kekuatan massa.
SI membeli koran ini dari perusahaan Tionghoa Hoang Thaif dan Co. Untuk menjamin kelangsungan hidup ekonomi harian ini, Raden Mohammad Joesoef, pemimpin redaksi dan wakil ketua SI cabang Semarang menjual saham NV Handel Maatschappijen Drukkerij Sinar Djawa pada anggota SI seharga 5 f per lembar pada Januari 1914 untuk membentuk perusahaan dagang yang akan menjalankan koran tersebut.
Awalnya koran progresif ini menyapa pembaca setiap bulan sekali dan banyak yang dibagikan secara gratis kepada anggota di pelbagai cabang. Sebagai suratkabar yang progresif, Sinar Djawa diperuntukkan sebagai medan pendidikan kader yang direalisasikan dalam formasi susunan redaksi. Pada 1917, tampak kekuasaan pemimpin redaksi Sinar Djawa berpindah tangan dari Mohammad Joesoef kepada Semaoen, salah seorang murid dan kader yang sudah lama tinggal bersama dengan Tjokroaminoto. Semaoen adalah satu dari tiga yang lahir dari didikan Tjokro, yakni Soekarno dan SM. Kartosuwiryo. Dan kita tahu ketiga orang yang pernah tinggal seatap saling hantam di kemudian hari dalam sejarah besar Republik.
Pada masa Semaoen ini Sinar Djawa terbit 4 halaman setiap hari (kecuali hari Ahad, Djoemaat, dan hari besar). Distribusi Sinar Djawa pun tak hanya mencakup wilayah Nusantara, tapi merambah hingga benua Amerika dan Eropa. Biaya berlangganan setahun untuk wilayah Hindia Belanda sebesar f 16, setiap tiga bulan f 4. Sedangkan tarif berlanggan untuk luar Hindia Belanda setahun sebesar f 20, dan setiap 3 bulan f 5. Atas distribusi yang luas maka tak heran bila harga iklan Sinar Djawa tergolong mahal, yaitu 75 cent untuk setiap baris, dan satu kolom 30 cent. Satu kali memasang iklan, setidaknya akan dimuat dua kali.
Yang mesti dicatat, di tangan Semaoen inilah—kala itu masih sangat belia, berusia 18 tahun—bandul Sinar Djawa bergerak kuat ke kutub progresif dan radikal. Selain Semaoen, pemuda legendaris semacam Mas Marco Kartodikromo juga turut memompa bara di sana. Kedua manusia yang telah putus urat takutnya inilah yang mengemudikan Sinar Djawa dengan gaya berteriak, menjambak, dan memukul.
Awas! awas! Soedara-soedara, roekoen, roekoen, ngisor galeng doewoer galeng “djangan seperti anak ketjil, Engatlah: Doerdjono hoera-hoera, wong tani ditaleni. Djaman heda.” Koem Boeroeh Roekoenlah! Roekoen membikin koet dan koet menambah selamat, Boenoeh...
Kaoem Boeroh, koempollah djadi satoe.... (Sinar Djawa, Senen 22 April 1918)
Keberadaan Semaoen yang dinilai terlalu progresif dalam mengemudikan Sinar Djawa kerap beroleh kritik dan cercaan dari pelbagai pihak, walaupun tidak sedikit pujian yang menghampiri. Rinkes misalnya, seorang pegawai pangrehpraja, dalam acara kunjungan penilaian jurnal pergerakan di tahun 1917, mencatat adanya perbaikan mutu Sinar Djawa setelah dipegang Semaoen. Adanya kecenderungan pola pikir yang progresif dan radikal juga dinilai Tjokroaminoto sebagai pengaruh psikologis jiwa muda pengasuhnya dan bukan karena pengaruh ideologinya semata.
Pemikiran lain justru muncul dari pemimpin redaksi lama, Mohammad Joesoef. Ia melihat pola pikir Semaoen terlalu dipengaruhi Snevleet, terutama ide kebebasan Pers yang dikemukakannya saat sidang. Mohammad Joesoef melihat Soemaoen terlalu gegabah mengemudikan Sinar Djawa. Akibat perdebatan yang panjang, lama kelamaan, Sinar Djawa menjadi wadah seteru “Anak dan Bapak”.
Menanggapi kritikan yang dilontarkan Mohammad Joesoef, Semaoen tidak tinggal diam. Ia mengatakan dalam bahasa yang tajam bahwa selama ini Sinar Djawa dinilai terlalu lembek jika berhadapan dengan pemerintah. Jika sikap ini terus dipertahankan, usaha untuk merebut suatu kemerdekaan dan angan-angan untuk lepas dari pemerintah Belanda hanya akan menjadi bunga tidur. Semaoen tetap teguh dalam pendirian untuk membawa Sinar Djawa pada gayanya yang keras dan lugas. Meski saat itu Tjokroaminoto sudah mulai menanggapi dingin, Semaoen terus saja jalan ke kiri.
Tindakan radikal yang dilakukan Semoen pada akhirnya membuat Tjokro, si bapak, naik pitam bukan main. Ia melihat ada persekongkolan antara Semaoen dengan Snevleet dalam Sinar Djawa. Karena terus-terusan dipisuhi, akhirnya Semaoen—bersama sahabatnya Snevleet—hengkang dari Sinar Djawa pada 1922 dan membentuk Sinar Hindia.
Setahun kemudian, tepatnya 29 September 1923, Sarekat Islam Semarang mengambil alih penerbitan Sinar Hindia dan penerbitannya diserahkan kepada Drukkerij VSTP Semarang. Pada 28 Juni 1924, kepemilikan koran ini berpindah tangan lagi dari Sarekat Islam Semarang ke Sarekat Rakjat Semarang. Persalinan milik itu mengikuti pergantian nama Sarekat Islam Merah menjadi Sarekat Rakjat.
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
12:10 AM
1 comments
Labels: Koran
Berani: Barang Siapa Jang Bentji Pada Kita, ialah Moesoeh Kita!
Judul itu diambil dari sebaris jargon suratkabar Berani. Slogan itu sangat lugas, keras, dan sekaligus menunjuk karakter yang akan diusung koran ini dalam kurun semasa.
Berani terbit di Pontianak dan menyapa pembacanya sejak 4 Juli 1925 sebagai suratkabar mingguan. Dengan lantang Berani mengenalkan siapa dirinya sesungguhnya:
Apa sebab Berani memberanikan dirinja lahir dimana doenia jang begini penoeh disarangi oleh imperialisten dan kapitalisten? Sebabnya Berani tak tahan lagi melihat dan membiarkan keadaan doenia kapitalisme co, imperialisme yang begitoe heibat mengadakan perang.. .peratoeran jang semata-mata memberatkan bebannja proletaar sedonie ini. Djadi tegasnja, Berani keloear kemoeka boemi ini semata-mata hendak bertanding, bertanding pada moesoeh-moesoehnja jang senantiasa soeka menghisap titik peloehnja sekalian kaoem boeroeh dan tani, dan djoega kan melawan pada segenap manoesia jang soeka memboeat pekerdjaan sewenang-wenang terhadap pada sesamanja manoesia.
Boekan itoe sadja jang akan dilawan oleh Berani tetapi orang jang bermerk “lintah darat” alias orang jang soeka mengaboei matanja raiat poen akan ditangan olehnja. Djika diperhatikan tentang perdjanjian Berani jang itoe sadja, maka njatalah, pada kita, bahwa tak boleh tidak nanti kami jang mengemoedikan Berani ini nistjaja akan mengalamkan soeatoe hal jang boekannja ringan, tetapi itoe semoeanja tak kami ambil moemet kendatipoen kami akan djadi korbannja......sebagaimana mestinja, walaupoen apa jang akan terjadi atas diri kami, tetapi dalam hal terseboet kami tak akan mengoendorkan diri. Perhatikanlah apa jang kami katakan itoe.....
Ingatlah! Apabila raib Berani ini dari pandangan kita, berarti sebagai hilang djoega oetoesan soeranja rai’at Indonesia, teroetama Borneo Barat. (Berani, 4 Juli1925)
Di awal terbit, pada lembar perkenalan dari redaksi Berani, sudah terlihat bahwa suratkabar ini nantinya memilih haluan non-kooperatif. Berani sendiri ditafsirkan sebagai B: boemi berpoetar angin meda, boekisannja perobahan sangat moedjara, boeahnja oesaha kata berdjawa, berani terlahir sodara jang ikra. E: engkoe redactoeuren betoelkah itoe, enggan djangan kita bersekoetoe, edjahan jang ringkas koekarangkan tentoe, entjamkan isinja hai sodarakoe. R: ratap tangisnja segala rai’at....rintangan banjak tjegahan ta’ dapat, rajoe hati, mendengar djeritanja oemat. A: adalah oempamanja sikoeda sad akan membawa barang-barang ditolak, antjaman poekoel rotan dan gotj, achir njawanja diambil algodjo. N: Njatalah sekarang ajoe hai sodarakoe, Djawa dan badanmoe sedang diadoe, njahkan kapitalisten, si djahaman itoe, anti sihinja dapat kemerdekaanmoe. I: Inilah masalahnja djanganlah aja, hajatlah dirimoe jang sedang sia, imbangannja penjakit, koedis jang gati, ichtiarkan obatnja, djangan menjel. (Berani, 4 Juli 1925)
Di bawah redaktur Boullie, Berani menyajikan berita dengan bahasa yang keras dan pedas. Merasa sebagai corong rakyat kecil, Berani menyajikan kritik-kritik lugas terhadap pemerintah dengan bahasa agitatif.
Di Pontianak soedah sering kedjadian ketjoerian-ketjoerian besar; tapi beloem pernah kita dengar kabar politie dapat tangkap. (Ada djoega jang kena tangkap. Red) Djoega semoea pendoedoek Pontianak tahoe itoe orang-orang seck jang ada di Pontianak djaga goedang-goedang, tapi mempoenjai oeang satoe-satoenja berpoeloeh-poeloeh riboe. Di manakah itu oeang didapatnja? Apakah ta’ pantas ditjoerigai, jang dia orang pentjoeri? Dan kalau boekan pentjoeri tentoe merentenkan oeang (lintah darat) atau penghisap darah ra’iat. Dan kalau begitoe, kapakah pemerintah membiarkan itoe sjek-sjek merentekan oeang? Apakah itoe sjek-sjek diberi izin merentekan oeang? Minta djawab. (Berani, 8 Agustus 1925)
Siapa yang tidak merah mendengar berita seperti ini? Berita-berita dan kritik-kritik agitatif seperti ini bisa kita lihat di kolom “Pemandangan Hari Sabtoe”. Bahkan di beberapa artikel di Berani, nama pribadi-pribadi disebut terang sebagai penanggung jawab atas tulisan dan artikel yang dimuat.
Dukungan-dukungan Berani kepada pimpinan atau pergerakan yang kala itu dianggap “musuh” pemerintah dinyatakan secara terbuka. Tokoh-tokoh yang diskong penuh itu antara lain H.M. Misbach dan Tjipto Mangunkusumo ketika dipenjara dan diasingkan di Manokwari oleh pemerintah. Berani bahkan berusaha mengakomodir para pembacanya untuk membantu Misbach dan keluargannya (Berani 7 November 1925). Sebuah upaya yang penuh risiko.
Dan Berani kian terbuka menyatakan diri sebagai media advokasi bagi masyarakat kecil: Barangsiapa ada merasa jang dirinja ada teraniaja, tertipoe, tertindas, dan disewenang-wenangkan oleh siapa poen djoega, datanglah adoekan hal itoe pada redactie dan soerat kabar ini! Kami berjanji, nanti kami bela hal pengadoean toean-toean dan sodara-sodara sebagaimana jang sepantasnja. (Berani, 11 Juli 1925)
Namun buru-buru Berani ingatkan supaya pengaduan itu bukan sekadar omong kosong. Kata Berani, “Tetapi saudarakoe ra’jat ingat, djanganlah hendaknja membawa perchabaran jang bohong dan hanya oentoek melepaskan hati sadja. Itoelah pesan kami jang haroes saudara perhatikan.”
Keberpihakan Berani sebagai penyuara rakyat cukup kental dalam setiap edisi beritanya, termasuk dalam rubrik syair, seperti Syair Merah milik S.R.N. Bezem dan Syair Tangisan Larat:
Adoeh melarat adoeh melarat
Kehidoepan Ra’jat di sini-sana,
Beban Ra’jat bertambah berat
Itoelah jang menjebabkan djadi merana....
(Berani, 18 Juli 1925)
Tak heran kalau berita-berita Berani cenderung kekiri-kirian karena sejak awal suratkabar ini telah menandaskan sikapnya yang anti terhadap imperialisten dan kapitalisten. Pemahaman tentang komunisme yang dianggap Berani sebagai penyelamat rakyat menjadi wacana bersambung di setiap terbitan Berani.
Untuk berlangganan Berani selama 3 bulan, pembaca hanya perlu mengeluarkan f 3. Namun sayang pembaca hanya dapat berlangganan kurang lebih selama 1 tahun saja sejak terbit pertama kali, karena pada 1926 Berani harus tutup. Pemerintah menganggapnya sebagai suratkabar yang terlalu ekstrimis, kelewat garang dan brutal mengayun mandau.
Namun itulah pilihan Berani sejak awal berdiri. Dan kini, sejak Berani dibredel, tidak ada lagi media tempat menampung pengaduan rakyat. Tak ada media seberani Berani.
Posted by
JOGJA-JAKARTA
at
12:10 AM
1 comments
Labels: Koran
