Friday, August 7, 2009

Agus Salim dan Mr. Moh. Roem Berenang


‘Ajo, Pak Salim, naek keatas papan lontjatan (sprinkplank)….”
’Ah, soedah toea sdr. Roem.......” kata Pak Salim, sambil tersenjoem dan mengeloes-eloes djenggotnja.
Tentoe, Pak Salim tida dapet lagi melontjat seperti Esther Williams. Tapi.....pelan-pelan dia mendekati aer, dan sampai dipinggir bak, kakinja doeloe jang dimasoekan kedalem aer. Dia mao rasakan dingin atau tidak kemoedian baroe badanja.
....Diharie liboer, hari Minggoe atawa hari laennja, begitoelah pekerdjaan orang terkemuka itoe. Dan dihari itoe marika loepa kepada politiek. Besoek soedah segar kembali dan politiek dapet dilanjoetkan” ( Sunday Courier, Tahoen 1 No. 3)

Itulah sepotong percakapan H.A. Salim dan Mr. Moh Roem yang terekam oleh Sunday Courier. Salim dan Roem bukan nama asing di jagat politik Indonesia. Salim pernah menjabat sebagai menteri luar negeri pada masa kabinet Sjahrir (1946). Akhir September 1949 juru foto Sunday Courier berhasil membidikan kameranya ke arah Salim dan Roem ketika berenang mengaso di hari minggu di permandian Kaliurang Jogjakarta (Tlogo Putri?) di mana keduanya hanya memakai celana renang.
Foto itu diambil pada hari kedua saat mengadakan perundingan dengan Belanda dan UNCHI di Kaliurang. Kebetulan pada hari Minggu tidak ada perundingan. Salim dan Roem menggunakan hari itu untuk rehat politik. (Rhoma, senang rasanya menemukan foto ini kembali)

::Selengkapnya::

Tuesday, June 2, 2009

Perempuan Penjaga Api


Dian=lampu tradisonal dari Jawa

Hari 1: Perempuan berkebaya, terjaga sepanjang malam, menjaga nyala dian. Apinya tidak boleh padam....apinya tak boleh padam, tekadnya. Api adalah lambang kehidupan.

Hari ke 2 : Perempuan ini tetap saja menjaga dian..njalanya tak meredup tapi tetap saja ia menjagannya. Dengan tubuh yang renta di usianya yang menjelang 50 tahun ia tetap terlihat menarik dan menawan. Guratan di wajahnya seperti lukisan alam.

Hari ke3: Perempuan itu tetap menjaga dian. Sanggulan rambutnya masih rapi. Matanya masih saja mengarah pada dian itu. Dia pergi ..dan masuk lagi dengan sepincuk bungan mawar merah dan putih. Bunga itu ia letakan dipinggir dian.

Hari ke 4: Perempuan itu menatap dian. Mata tak bulat, kecil dengan sepasang alis yang tebal ...mata seperti ini hanyalah milik perempuan Jawa. Ia menerawang, penuh kecemasan. Tapi ada harapan di sana, harapan sebuah kehidupan.

Hari ke 5: Perempuan itu masih saja duduk bersimpuh menatap nyala api dian. Ketika nyala apinya meredup cepat-cepat tangan-nya menerungkup nyala api agar tidak megecil. Dia berkomat-kamit seperti mengeluarkan mantra ketika api itu mengecil. Wajahnya memerah...ia terus berkomat kamit.

Hari ke 6: Wajah cantiknya, ia adalah tipikal face Jawa. Perempuan Solo nan anggun, namun penuh karakter. Wajahnya menyiratkan banyak kehilangan dalam hidup..tapi nampaknya ia tetap saja nrimo seperti perempuan-perempuan Jawa lainnya. Kali ini masih saja ia menunggui dian itu.

Hari ke 7: Dian itu masih menyala. Perempuan lain masuk membawakan apem, bunga mawar dan kantil lengkap dengan kemenyan. Ia berikan kepada perempuan yang masih duduk di dekat dian itu.

Hari ke 8: Api dian itu memantul-mantul bandul kalung yang melingkar di leher perempuan itu. Gelang emasnya, dan cicin yang melingkar di jari-jarinya berkilau-kilau dengan pantulan api dian itu. Jelas ia bukan dari golongan rendahan. Ia bangsawan atau orang yang cukup berada.

Hari ke 9: Perempuan penjaga dian itu adalah bekas penggurus Poetri Indonesia Opgericht Bondowoso. Keteguhannya dalam berorganisasi seteguh ia menjaga nyala dian itu.

Hari ke 10: Ia bersimpuh di depan dian. Perempuan itu berbisik ”Tidak boleh berakhir”.

Hari ke 11: Tahun 1927 silam ia melahirkan seorang anak laki-laki. Dan dian itu adalah kehidupan sang bayi.

Hari ke 12: Perempuan ini menyusui bayinya hingga tumbuh. Sekira 3 tahun kemudian ia kirimkan anak ilaki-lakinya ke luar kota untuk belajar banyak hal.

Hari ke 13: Anak laki-lakinya itu adalah segala-galanya bagi perempuan itu.

Hari ke 14: Rumah bertingkat tiga, dekat sungai dengan ruang bawah tanah tempat berkumpul orang-orang membicara perlawanan, feodalisme, tuan tanah dan kaum penjajah. Anak itu tumbuh bersama kakeknya.

Hari 15: Pergerakan kaum merah 1926 membawa ayah anak itu diciduk kemudian, bernasip naas masuk ke gerbong maut.

Hari 16, 17, 18, 19, 20: Perempuan itu terus ada menjaga nyala dian. Tidak ada letih dan lelah.

Hari 21, 22, 23, 24, 25,26,27,28: Perempuan itu tetap menjaga nyala dian itu.Ia tidak menangis, tertidur dan terjaga disamping dian itu.

Hari ke 29: Nyala api tetap terjaga....bahkan apinya kian membesar. Matanya bebinar. Karena harapannya adalah kehidupan bagi si anak.

Hari ke 30: Apinya tak padam...bibir perempuan itu tersungging..ia tersenyum puas. Ia berkata lirih: ’Anakku Njoto tidak mati..dia hidup dan tak mati”. Perempuan itu tidak sadar, di luar sana anaknya telah hilang tak tahu rimbanya....api dalam dian itu adalah ideologinya yang tetap hidup. Perempuan itu berdiri meninggalkan api dalam dian yang terus menyala. Di akhir tahun 1965.(Rhoma, catatan sebelum tidur)

::Selengkapnya::

Thursday, January 1, 2009

Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanah Air Bahasa


Judul Buku: Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanah Air Bahasa
Supervisi: Taufik Rahzen
Koordinator Riset dan Penulisan: Muhidin M Dahlan
Periset: Agung Dwi Hartanto, Arahman Topan Ali, Argus Firmansah, Dian Andika Winda, Iswara N Raditya, Mahtisa Iswari, M Yuanda Zara, Petrik Matanasi, Reni Nuryanti, Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Sunarno, Tunggul Tauladan
Penerbit: I:BOEKOE, Desember 2008
Tebal: 1184 halaman (edisi hitam putih)
Ukuran: 15x24 cm (hardcover)

Karena hanya cetak terbatas, maka penerbit hanya menerima pesanan. Untuk pemesanan hubungi: 081328690269 (Ria/Jakarta) dan 08886854721 (Nurul/Jogja)



CUPLIKAN PENGANTAR

Kebangsaan adalah sebuah proses panjang dan melelahkan ihwal perumusan apa yang disebut identitas untuk pemuliaan manusia. Karena itu kebangsaan kerap disandingkan dengan perjuangan mencipta kondisi tumbuhnya situasi kemanusiaan yang di kemudian hari memadat menjadi semangat baru bernegara, yakni nasionalisme.

Perjuangan itu mengambil banyak bentuk dan varian dalam skema perjuangan. Sebelum abad 20, skema perjuangan dominan dilakukan lewat cara-cara peperangan dan adu pasukan di medan laga. Namun dalam dasawarsa pertama abad 20, pola perjuangan memasuki titik perubahan yang cukup signifikan. Titik perubahan itu dipicu oleh sebuah kesadaran baru tentang jalan cetak atau jalan pers. Sekaligus jalan pers ini menjadi semacam pembeda dengan jalan nasionalisme yang ditempuh India yang bertumpu pada hirarki kasta atau nasionalisme Rusia yang memperjuangkan perbenturan kelas dan melahirkan komunisme atau Inggris yang lahir dari gilda dan pasar para borjuis.

Tesis bahwa bangunan kebangsaan kita dididirkan dari tradisi pers bisa dilihat dari fakta sejarah bahwa nyaris seluruh tokoh kunci pergerakan kebangsaan dan nasionalisme adalah tokoh pers. Dan posisi mereka dalam struktur pers umumnya pemimpin redaksi (hoofdredakteur) atau paling rendah adalah redaktur. HOS Tjokroaminoto yang kita kenal sebagai salah satu “guru pergerakan” adalah pemimpin redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa. “Tiga Serangkai” Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo menukangi De Express.

Semaoen diusianya 18 tahun sudah memimpin Sinar Djawa yang kemudian berubah menjadi Sinar Hindia. Maridjan Kartosoewirjo menjadi reporter dan redaktur iklan di Fadjar Asia. Sebelum berkonsentrasi mengurus dasar pendidikan, Ki Hadjar Dewantara adalah pemimpin redaksi Persatoean Hindia dan bahu-membahu bersuara dalam majalah Pemimpin.

Adapun Soekarno menjadi pemimpin redaksi Persatoean Indonesia dan Fikiran Ra’jat. Setelah pulang dari Belanda dan menjadi pemimpin redaksi majalah Indonesia Merdeka dalam Perhimpunan Indonesia (PI), Mohammad Hatta dan dibantu Sjahrir menakhodai Daulat Ra’jat. Bahkan Amir Sjarifuddin dalam Partindo menjadi pemimpin redaksi Banteng, serta masih banyak lagi.

Walau tingkat pendidikan mayoritas rakyat masih rendah, para tokoh pergerakan itu sadar bahwa lembar pers bisa dijadikan medium mengampanyekan ide-ide nasionalisme selain mimbar-mimbar pertemuan. Dengan pers pula pesan dan gagasan memiliki tingkat aksesibilitas dengan cakupan luas, terutama di kancah internasional. Selain itu, dan ini menjadi ciri dari masa percobaan ini, bahasa Indonesia memungkinkan dibentuk dan diberi rumah baru.

Yang menjadi soal kemudian kapan permulaan pertama yang dengan kesadaran penuh menjadikan pers sebagai alat pergerakan dan menjadi kuda tunggangan pembibitan semangat membuat rumah bagi bahasa dan usaha menyatukan kolektivitas tanah dan air dalam semesta kesadaran berbangsa. Peritesis itu kemudian mempertemukan kita dengan sepotong nama Tirto Adhi Soerjo dan Medan Prijaji yang terbit pertama kali di Bandung pada 1907. Tahun 2007 adalah tepat seabad suratkabar mingguan dengan motto di kepala korannya: ja’ni swara bagai sekalian Radja2 Bangsawan Asali dan fikiran dan saudagar2 Anaknegri, lid2 Gomeente dan Gewestelijke Raden dan saudagar bangsa jang terprentah lainnja.”

Menjadikan Medan Prijaji sebagai patok Seabad Pers Kebangsaan dialasdasari pertimbangan sebagai berikut: Pertama, bahwa Medan Prijaji berfungsi sebagai pers, baik tugasnya sebagai jurnalistik yang memberi kabar sekaligus mengadvokasi publiknya sendiri dari kesewenang-wenangan kekuasaan maupun kemauan untuk membangun perusahaan pers yang mandiri dan otonom. Terkait dengan tugasnya yang pertama ini, Tirto mesti berhadapan muka dengan kekuasaan kolonial yang bengis. Sekaligus Medan Prijaji dengan keberbedaannya itu berkesempatan gentayangan dan berkaok-kaok di daratan Eropa. Karena dianggap sebagai jurnalis paling berbahaya dan menunggang kuda petarung yang tak suka basa-basi seperti Medan Prijaji, Tirto kemudian menjadi incaran.

Kedua, visi Medan Prijaji yang tereksplisitkan dalam jargonnya yang beridentitaskan kebangsaan itu memberi implikasi pada keindonesiaan hari ini setelah Medan Prijaji tak ada. Kebangsaan yang dimaksudkan di sini adalah kebangsaan yang diikat oleh dialektika antara kolektivitas tanah air dan bahasa. Dari hubungan dialektika inilah muncul bangsa. Ketiga, konsepsi kebangsaan itu dibangun dengan cara sistematis. Selain jalan pers dengan mendirikan perusahaan yang menopang jalannya pers, Tirto juga turut memulai pergerakan lewat jalan berorganisasi. Titik tuju dua tradisi yang disatukan itu adalah penyemaian kesadaran berbangsa. Dari tangan Tirto lah muncul embrio organisasi yang bercorak seperti Boedi Oetomo, yakni ketika pada 1906 atau dua tahun sebelum Boedi Oetomo, ia mendirikan Sarekat Prijaji. Dan Tirto pulalah rancangan pertama Sarekat Islam yang melahirkan banyak sekali tokoh pergerakan, baik kiri, tengah, maupun kanan, saat dia mengonsep Sarekat Dagang Islamijah di Bogor dan kemudian dikembangkan Samanhudi di Surakarta. Tirtolah yang menyatukan tradisi pergerakan dan tradisi pers untuk satu tujuan, yakni kesadaran berbangsa.

Keempat, karena dilakukan secara sistematis itulah maka posisi dan tindakan Tirto bukan sekadar sebagai historical piece atau irisan sejarah yang biasa, tapi membuat momentum sejarah di mana sejarah menjadi patok untuk aksi sejarah ketika semua peristiwa berkumpul pada saat itu dan orang menilai peristiwa itu sebelum dan sesudah peristiwa itu berlangsung.

Medan Prijaji memberi dampak besar dan menginspirasikan gerak selanjutnya. Bahwa sudah ada yang terbit duluan, itu tidak jadi soal. Namun kita berbicara dampak bagi pembentukan mandat kebangsaan. Pada saat Medan Prijaji itulah momentum sejarah dipetakan dan perang terbuka di media massa diserukan. Bertitik tolak dari situ pulalah gerakan-gerakan kebangsaan itu mulai mengkristal, membangun gerakan kebudayaan dengan kantong-kantong organisasi modern, memaksimalkan pers sebagai alat perjuangan.

Dan kelima, Pramoedya Ananta Toer adalah orang yang dengan jernih melihat kehidupan semasa Tirto dan Medan Prijaji. Dari usaha Pram itulah pribadi ini diketahui dunia internasional dan ribuan lapisan masyarakat kita hari ini. Karena itu mengajukan namanya karena pribadi ini yang paling mudah diterima masyarakat.

Kelima alasan itulah kemudian mengukuhkan bahwa patok pers kebangsaan adalah Medan Prijaji dan Tirto Adhi Surjo menjadi pemancang patok itu. Dengan memancangkan patok ini paling tidak kita menarik dua hal: (1) memiliki protagonis atau tokoh idola yang diteladani baik di dunia pers maupun dalam pergerakan; (2) kita bisa menafsirkan sejarah Indonesia dalam perspektif yang baru.

Dengan mengambil Tirto Adhi Soerjo sebagai model, maka polemik bahwa Indonesia dibangun oleh kalangan Jawa atau kalangan Islam itu bisa diselesaikan. Dan itu menjadi sumbangan berarti bagi pembelahan bangsa yang panjang ini, sebagaimana kita saksikan di sidang-sidang konstituante bagaimana pembelahan negera Islam dan negara nasionalis terjadi. Kalis melihat soal itu, kita pun terdorong ke sistem Demokrasi Terpimpin yang berakhir tragis pada peristiwa G 30 S.

Orang selalu mengatakan bahwa gerakan yang pertama kali berlingkup nasional itu adalah Sarekat Islam. Yang lain mengatakan bahwa yang pertama adalah Boedi Oetomo yang berarti Jawa. Orang tak sadar bahwa kedua gerakan yang dipertentangkan itu lahir dan bermuara pada sumur yang sama, yakni Tirto Adhi Soerjo.

Jadi tujuan Tirto/Medan Prijaji adalah memerdekakan. Dia dengan jelas memberitahu konsepsi kebangsaan itu tidak dibangun berdasarkan atas suku dan agama, tapi gerakan intelektual, kesadaran bahasa, dan keyakinan bertanah air. Jadi jika dicari semua gerakan itu, terutama gerakan nasionalis dan gerakan Islam, bersumbu pada sumur yang sama.



BUKU INI DITERBITKAN sebagai sebuah penghargaan atas kerja Tirto Adhi Soerjo yang mangkat dengan tragis pada 7 Desember 1918. Dikerjakan siang malam oleh sembilan sejarawan muda (partikelir) di bawah usia 25 tahun selama dua tahun.

Sebagai sebuah perayaan tradisi pers Indonesia, buku ini menuliskan kembali 365 mini-biografi pers Indonesia. Bukan hanya cetak, tapi juga elektronik, bahkan tradisi pers di internet. Diriset dari pers yang terbit di hampir seluruh daerah, pelbagai bahasa (Indonesia, Jawa, Sunda, Belanda), dan seluruh kurun (1907-2007—bahkan sampai merentang lebih jauh pada 1744).

Sekaligus buku ini menandai sebuah maklumat bahwa 7 Desember adalah tonggak Hari Pers Indonesia, tepat di hari ketika Tirto wafat di mana dalam sepanjang hidupnya sudah meneguhkan tugas dan posisi pers: bagaimana pers mesti berhadapan dengan kekuasaan, bagaimana pers mesti membangun perniagaan untuk bisa bertahan dan hidup sehat, serta bagaimana mestinya keberpihakan pers terhadap masyarakat lemah dalam membangun kritisisme dan sekaligus mendorong keswadayaannya.


DAFTAR PERS INDONESIA YANG DIRISET

MEDAN PRIJAJI
Koran Pertama Penyuluh Kebangsaan ~ 1

BATAVIASE NOUVELLES
Yang Pertama yang Dibreidel ~ 5

SELOMPRET MELAJOE
Terompet Bisnis Kaoem Pedagang ~ 8

TJAHAJA SIJANG
Dari Penginjil ke Sekuler Progresif ~ 11

PEMBRITA BETAWI
Terbit di Ujung Abad ~ 14

PERTJA BARAT
Satire untuk Padang ~ 17

BINTANG BATAVIA
Koran Putih untuk Rakyat Hindia Belanda ~ 20

RETNODHOEMILAH
Sepoetjoek Soerat Boeat Pembatja ~ 23

PEWARTA BORNEO
Internasionalisme Borneo ~ 26

BINTANG HINDIA
Bangsa Osoelan dan Piekieran ~ 29

PERNIAGAAN
Berdagang Politik ~ 32

SOENDA BERITA
Dari Tjianjur Mengasah Ketajaman Pena ~ 35

SINAR ATJEH
Si Putih Manis dari Ujung Barat ~ 39

SOELOEH KEADILAN
Adik Kandung Mas Medan ~ 43

TJAHAJA TIMOER
Terbit di Antara Kaum Pembatik ~ 46

POETRI HINDIA
Kekasih Cantik dan Alus Mas Medan ~ 49

DJAWI HISWARA
Martodharsono dan Geger Surakarta ~ 53

PANTJARAN WARTA
Anak Hindia Soedah Berapi ~ 57

PEWARTA DELI
Hulu Bagi Jurnalis-Jurnalis Tangguh ~ 60

SINPO
The Bodyguard from Batavia ~ 63

AL-MOENIR
Saudara Mudanya al-Manar ~ 66

MEDAN GOEROE HINDIA
Hak Sekolah untuk Semua ~ 70

OETOESAN MELAJOE
Koran Utusan Kaum Adat ~ 73

TJAJA HINDIA
Nasionalisme Bangsa (Basa) Indonesia ~ 77

DE EXPRES
Ik ben Indisch, Ik ben Indonesier!!! ~ 80

OETOESAN HINDIA
Hidup Mati untuk Sarekat Islam ~ 83

SAROTOMO
Koran Kritis Dituduh Rasis ~ 87

SOENTING MELAJOE
Disini, Nama Roehana Koeddoes Terpahat ~ 91

SAUDARA HINDIA
Berbagi Ilmu di Majalah ~ 94

BINTANG TIONGHOA
Ada Sawo Matang di Koran Kuning ~ 97

DOENIA BERGERAK
Koran Pamflet untuk Aktivis Berkepala Batu ~ 101

POETRI MARDIKA
Si Gadis Intelek Boedi Oetomo ~ 104

SELOMPRET HINDIA
Tereaklah! ~ 107

BINTANG MATARAM
Gelitik-Menggelitik di Pojok Halaman ~ 110

MEDAN BOEDIMAN
Pandai dan Terampil untuk Karaharjan Negeri ~ 114

MEDAN MOESLIMIN
Hidoep Kaoem Moeslimin Sedoenia ~ 117

SOEARA MOEHAMMADIJAH
Hampir Seabad Bernapas di Bawah Matahari ~ 120

BENIH MARDEKA
Karena Critic itu Menghibur, Toean! ~ 124

HINDIA MOEDA
Visi Perubahan di Lampung ~ 127

IEN PO
Koran dengan Strategi Pemasaran Kreatif ~ 130

NERATJA
Didik Nasionalisme Lewat Jalan Pendidikan ~ 134

SINAR DJAWA
Antara SI, Semaoen, dan Radikalisme Pers ~ 138

BARGA WASTRA
Ksatria Manggis dari Cirebon ~ 142

JONG SUMATRA
Tiada Bahasa, Hilanglah Bangsa ~ 145

PEREMPOEAN BERGERAK
Dari Deli untuk Kesetaraan ~ 148

PERSATOEAN HINDIA
‘De Expres Jilid II ~ 152

SINAR PASOENDAN
Duta Rakyat Pasundan untuk SI Semarang ~ 155

TERADJOE
Mustika Negeri dari Hilir Musi ~ 158

BOEDI OETOMO
Satrija Djawa Sedjati ~ 161

KENG PO
Mustika Negeri dari Hilir Musi ~ 164

JONG JAVA
Dari Jawa untuk Tanah Air ~ 168

MASA BAROE
Ratu Adil dari Bandoeng ~ 172

PEMIMPIN
Jurnalisme Berkelahi yang Berakhir di Bui ~ 175

BENIH PENGETAHOEAN
Dari Kabar Pertukangan Hingga Pergerakan ~ 178

DOENIA BAROE
Konang-konang dalam Benderang Kapitaal ~ 181

MATAHARI
Berkobar-kobar Mendjilat ka Kiri ~ 185

PEMBERITA INDIA
Pengingat yang Diabaikan ~ 188

PERSATOEAN
Nasionalisme Turki untuk Penduduk Hindia ~ 191

BANDERA ISLAM
Patok-patok Merukunkan Islam ~ 194

FADJAR ASIA
Lebih Dekat dengan Tojkro, Salim, dan Wirjo ~ 197

HALILINTAR
Pontianak Diguntjang ‘Petir’ ~ 201

KEMADJOEAN HINDIA
Lahir Setelah Oetoesan Hindia Wassalam ~ 204

OETEOSAN RA’IAT
Dari Dakwah Mimbar ke Dakwah Koran ~ 208

PAHLAWAN
Juru Damai, Redakan Tikai ~ 211

RA’JAT BERGERAK
Misbach Ditangkap dan Medja Redactie Tergontjang!!! ~215

SARASO SAMALOE
Satu Rasa Minang-Pariaman ~ 218

SIN JIT PO
Di Sini si Fjamboek Berduri Pernah Jadi Redacteur ~ 221

SIPATAHOENAN
Nasionalisme Dari Paguyuban Sunda ~ 224

WARTA TIMOER
“Spion” Pembela Kaum Lemah ~ 227

BINTANG BORNEO
Manisfest Nasionalisten op Borneo ~ 230

BOEMIPOETERA
Sang Penakluk Malaise ~ 233

INDONESIA MERDEKA
Seruan Merdeka dari Perhimpunan Indonesia ~ 236

KAOEM KITA
PKI Menipu Sarekat Islam ~ 240

PELITA ANDALAS
Cahaya Terang Tionghoa-Bumiputera ~ 243

SOEARA HINDIA
Dari Dagang hingga Perempuan ~ 246

BERANI
Barang Siapa Jang Bentji Pada Kita ialah Moesoeh Kita! ~ 249

CHABAR MINGGOEAN
Ada yang Menggigit di Feuileton ~ 252

DJAWA TENGAH REVIEW
Jurnal Berita yang Tak Bias dan Biasa ~ 255

DOENIA BAROE
Semesta Tionghoa untuk Indonesia ~ 258

FIKIRAN
Penyambung Lidah Rakyat Minahasa ~ 261

HINDIA BAROE
Iklan Menjepit Haji Agus Salim ~ 264

NJALA
Ra’jat Mengadoe Didjawab dengan Kelewang ~ 267

PENJOELOEH
Memojokkan Polisi Kolonial Dapat Teguran Bestuur ~ 270

PERSATOEAN RA’JAT
Kaoem Miskin dari Segala Bangsa dan Agama Bersatoelah ~ 273

SWARA PUBLIEK
“Doesta” yang Bilang Pers Peranakan Ta’ Nasionalist ~ 276

TEMPO
Sebarisan Penganjur Dari Koran Jogja ~ 280

TJAHJA PALEMBANG
Menerangi Kebusukan ~ 284

BINTANG TIMOER
Yang Membujur lalu yang Melintang Patah ~ 287

HAN PO
Jadikanlah Kami Indonesiamu Juga ~ 290

PEMBERITA
Berayun Bersama Perlawanan Merah ‘26 ~ 294

PERSAUDARA’AN
Pemantik Semangat Kemajuan Rakyat ~ 297

PERTJA SELATAN
Bangoenlah Wong Palembang! ~ 300

SINAR BORNEO
Jurnalisme Scolastik dari Pontianak ~ 303

SINAR INDONESIA
Hakim Bagi Musuh Kaum Proletar ~ 306

SOEARA BORNEO
Kabar dari Negeri Mandau ~ 309

SOEARA MOERID
Penegak Surau di Padang Pandjang ~ 312

SOEARA TAMAN SISWA
Pejuang Pendidikan Bangsa Indonesia ~ 315

SOELING HINDIA
Mengaloen Oentoek Indonesia Raja ~ 318

SOELOEH INDONESIA
Jurnal Politik Kaum Cerdik Cendekia ~ 321

TJAHAJA DJOMBANG
Setitik Api dari Djombang ~ 325

BOEMI MELAJOE
Dari Selatan Pulau Perca Mengeja Indonesia ~ 328

MIMBAR CELEBES
Pergerakan dan Kritik Budaya ~ 331

MATAHARI INDONESIA
Iwa Pun Dikurung di Belakang Matahari ~ 334

PELITA BANGKA
Surat Kabar Pertama di Bangka ~ 338

PERSATOEAN INDONESIA
Pekik Nasionalisme Soekarno ~ 341

PEWARTA MADIOEN
Dulu Sekedar Reclame Sekarang Moweat Segala Brita ~ 344

SOEARA KITA
Banggalah Berbahasa Indonesia ~ 347

ISTERI
Utusan Perikatan Perempoean Indonesia ~ 351

ISTRI MERDIKA
Memori Masa Lalu dan Cermin Kini ~ 354

PEWARTA MENADO
Seruan dari Utara Celebes ~ 357

SIN TIT PO
Persemaian Jiwa Indonesia ~ 360

SINAR DELI
Dalam Arus Besar Pergerakan ~ 363

SINAR LAOETAN
Jalan Belakang Menuju Kebebasan ~ 366

SOEARA TIMOER
Berjuang untuk Ibu Timur ~ 369

FADJAR INDONESIA
Reportase Perbudakan Kolonial di Mandar ~ 372

PERGERAKAN
Pembela Peranakan di Belakang Tembok ~ 375

SEDAR
Penentang Keras Poligami ~ 378

INDONESIA MOEDA
Yang Muda, yang Berkarya ~ 382

SOEARA KAOEM
Agoes Salim dan Persatuan Kaum Muda ~ 385

RA’JAT
Si Pedagog dari Madura ~ 388

BARISAN KITA
Di Mangkasar Matahari Molai Bertjahaja ~ 391

DAULAT RA’JAT
Mengembalikan Pergerakan ke Jalur Pemikiran ~ 394

LENTERA
Kaoem Iboe Wadjib Tempoer ~ 398

AKSI
Apa Tuan Seorang Nasionalist ~ 401

MEDAN RA’JAT
Koran Islam Semua Paham ~ 405

OETOESAN INDONESIA
Dari Kiri ke Nasionalis ~ 408

SOEARA MERDEKA
Ketika Gerakan Pemuda dan Pemudi Sama Pentingnya ~ 412

SOEARA OEMOEM
Dari ‘Studie Club’ ke ‘Parindra’ ~ 416

SOELOEH KAOEM MOEDA
Sajian Untuk Kaum yang Dilarang Berhutang ~ 419

SURYA
Sekutu Soekarno dari Andalas ~ 422

API RA’JAT
Api juang berkubar-kubar dalam Tungku ~ 425

ASIA BAROE
Naga di Bumi Pasundan ~ 428

BANTENG
Jago Tarung dari Partindo ~ 431

FIKIRAN RA’JAT
Kaoem Marhaen, Inilah Madjalah Kamoe! ~ 434

MENJALA
Organ PNI Sembunyi Tangan ~ 437

SENDJATA RA’JAT
Penyokong Pergerakan yang Radikal ~ 440

ADIL
Menuntun Umat, Mengawal Lahirnya Reformasi ~ 443

PENJEBAR SEMANGAT
Untuk Bangsa Kita Kaum Kromo ~ 447

PEMANDANGAN
Mozaik Nasionalist Indonesia ~ 450

POEDJANGGA BAROE
Pandu Kebudayaan Indonesia ~ 454

WARTA KEMADJOEAN
Figur Pembebasan bagi Rakyat ~ 457

MINAHASSA POST
Bukan (Lagi) Kroni Kolonial ~ 460

OETOESAN
Figur Pembebasan bagi Rakyat ~ 463

SINAR SUMATRA
Ketika Melayu Ingin Modern ~ 466

SOELAWESI
Nyemprot, tapi bukan Propaganda ~ 469

TABOEH
Nasionalisme dari Negeri Asing ~ 472

ISTERI INDONESIA
Kami Hanya Perkumpulan Sosial ~ 475

PENJEDAR
Penyadar di Kala Tak Sadar ~ 478

SOEARA PARINDRA
Gaung Bergabung Menuju Persatuan ~ 481

TJAJA BOGOR
“Obat Kuat” Buat Bogor ~ 484

NATIONALE COMMENTAREN
Trengginasnya Orang Manado! ~ 487

PENOENTOEN PIKIRAN
Memperjuangkan Borneo ~ 490

PEWARTA OEMOEM
Mengenalkan Pemimpin dan Bangsa Lewat Pidato ~ 493

SEPAKAT
Penjajahan, Perang, dan Kesadaran ~ 496

SEROEAN
Gorontalo Minta Diperhatikan ~ 499

SINAR BAROE
Juru Bicara Saudara Tua ~ 502

DJAWA BAROE
Kumpulkanlah Biji Jarak ~ 505

PESAT
Santun Dalam Kata, Bijak Dalam Berita ~ 509

REPOEBLIK
Suplemen Nasionalisme dalam Berita Perang ~ 512

BERITA INDONESIA
Koran Propaganda Kemerdekaan ~ 515

BINTANG MERAH
Dengan Jurnal Kembali ke Atas Panggung ~ 518

DJAJABAJA
Mulut Jawa Prabu Karno ~ 521

KEDAULATAN RAKJAT
Saksi Jatuh Bangunnya Pemerintahan Indonesia ~ 524

MERAH POETIH
Pentingnya Uang Bagi Negara Merdeka ~ 528

RRI
Sekali di Udara, Tetap di Udara ~ 531

MERDEKA
Barisan Pembela Soekarnoisme yang Dihempas Soekarno ~ 534

HIDUP
Dari Katolik untuk Indonesia ~ 537

PANDJI RA’JAT
Koran Gratis untuk Indonesia ~ 541

PEMBANGOEN
Njalakan Api Persaoedaraan Bangsa-Bangsa ~ 544

SUARA MASJARAKAT
Penerang dari Malang ~ 547

SOEARA MERDEKA
Siapa Pengkhianat, Siapa Pembela Revolusi ~ 550

SOELOEH MERDEKA
Seiya Sekata, Sahabat Sejati Republiken ~ 553

BAKTI
Ksatria Baret dalam Berita ~ 556

BERNAS
Koran untuk Kota Pendidikan ~ 559

GELOMBANG ZAMAN
Penggiring Badai Revolusi ~ 562

GELORA RAKJAT
Nasionalisme dalam Lembaran Koran ~ 566

GEMA MASSA
Kesetiaan yang Pahit ~ 569

MASJARAKAT BAROE
Geliat Damai Staat van Beleg ~ 572

NUSANTARA
“Harian Got dan Fasis” ~ 575

PELITA RAKJAT
Suratkabar Berhaluan Nasionalis ~ 578

BINTANG INDONESIA
Lentur Mewartakan Perekonomian ~ 581

MIMBAR UMUM
Koran Medan, Berita Jakarta ~ 584

MINGGU PAGI
Dua Jilid Perlawanan Seniman Malioboro ~ 587

PEDOMAN RAKJAT
Penghadang Jalan Kudeta ~ 590

PENABOER
Dari Jakarta Menabur Kasih ~ 593

PENINDJAU
Kecak-kecak Warna Politik ~ 596

PENOENTOEN PERDJOEANGAN
Dari Bukitinggi Menyusun Strategi ~ 599

SIASAT
“Jalan Puisi” dalam (Berita) Politik Indonesia ~ 603

TROMPET MASJARAKAT
Tiada Hari Tanpa Meja Hijau ~ 607

WAKTOE
Enak Dibaca dan Penting ~ 610

WARTA EKONOMI
Mencari Format Ekonomi yang Berkeindonesiaan ~ 613

WASPADA
Di Bawah Bayang-Bayang ‘Sang Godfather’ ~ 616

GEMA SUASANA
Eksodus Sastra Kritik ~ 619

KESATUAN INDONESIA
Sadar Satu Sebangsa ~ 622

HIKMAH
Karena Komunis Harus Ditendang! ~ 625

MESTIKA
Media Intrik Nir Partai ~ 629

PEDOMAN
Presiden Soeharto: “Pedoman...Pateni wae...” ~ 632

PERDAMAIAN
‘Proces Sedjarah’ Sebagai Tonggak Ingatan ~ 635

SIKAP
Diplomasi Kuat Bangsa Berdaulat ~ 639

SUARA INDONESIA
Keseimbangan Informasi dan Hiburan ~ 642

SUMBER
Kesatuan Indonesia Sebagai Harga Mati ~ 645

WARTA INDONESIA
Keteguhan dalam Pergolakan ~ 648

ABAD BARU
‘Pudjangga Baru’ van Medan ~ 652

DUNIA EKONOMI
Menyapa Kaum Papa Lewat Media ~ 655

HARIAN UMUM
‘Pak Pentol’ dan Benteng Kewarasan ~ 659

INDONESIA RAYA
Berkali-kali Dibredel Baru Mati ~ 662

DJAWA POST
Sebuah Anomali Pers Melayu Tionghoa ~ 666

MEKAR
Tetap Setia pada Bu Fat ~ 670

SUNDAY COURIER
Rupa-Rupa Politik di Hari Minggu ~ 673

TANAH AIR
Mengabdi dengan Setia Kepada Tanah Air ~ 676

ABADI
Hidupnya tak Seabadi Namanya ~ 679

PENGHARAPAN
Hikayat Sepotong Kisah Korupsi ~ 683

RAKJAT BERDJOANG
Daerah Berontak, Siapa Dalang? ~ 686

SUARA MERDEKA
Koran Daerah Bernapas Nasional ~ 689

UTUSAN INDONESIA
Tahu Menghargai Pahlawan ~ 692

BASIS
Jurnalisme Seribu Mata ~ 695

HARIAN RAKJAT
Di Bawah Pukulan dan Sabetan Palu Arit ~ 699

IPPHOS
Sejarah dalam Selembar Foto ~ 703

KOMPAS
Nugroho Notosusanto Berhasrat

Memperdalam Keinsafan ~ 706
MARHAEN

Si Penyambung Lidah Karno di Makassar ~ 709
MINGGUAN HARAPAN

Bedil Berpeluru Civic Mission ~ 712
PEMUDA

Kenapa Mesti Mesti Menyembah Pada Angkatan Tua ~ 715
PUTERA SAMUDERA

Para Penjaga Laut ~ 718
STAR WEEKLY

Di Satu Putaran Jalan Hidup PK Ojong ~ 721
TEGAS

Tanah Rencong Menuntut “Kemerdekaan Kolonial” ~ 724
MIMBAR INDONESIA

Secangkir Kopi dan Berita Hangat di Sore Hari ~ 727
OLAHRAGA

Pengabar Krida Negara ~ 730
INDONESIA

Dari Idrus Hingga Armijn Pane ~ 733
SULUH INDONESIA

Karena Buku Belajar Memahami Soekarnoisme ~ 736
SURABAYA POST

Terbit Sore dengan Jurnalisme Putih ~ 739
DUTA MASJARAKAT

Bintang Sembilan di Tengah Prahara’ 59 ~ 742
WARTA BANDUNG

Bersama Belok Kiri ~ 745

MINGGUAN SADAR
Media Hiburan Melek Politik ~ 748

PROKLAMASI
Soekarno Kawin Lagi ~ 751

REPUBLIK
Djelek-djelek Tetap Djakarta Kite ~ 754

BUSINESS NEWS
Setia Memediasi Kebijakan Ekomomi ~ 757

SI KUNTJUNG
Legenda Majalah Anak ~ 760

IBU
Bukan “Perempuan”, Tapi “Wanita” ~ 763

PELOPOR
Kabar Buruk Buat Bung Karno ~ 766

REPUBLIK
Res Publica di Kota Atlas ~ 769

SKETSMASA
Dengan Berita Mencerdaskan Bangsa ~ 772

POS INDONESIA
Banyak Cara Berkelit dari Jeratan Delict ~ 775

SELECTA
Diberangus Hanya Karena Mengatai Soeharto Bukan Anak Petani ~ 778

WARTA
Ibu Maju, Bangsa Maju ~ 782

PANDJI MASYARAKAT
Penyambung Lidah Tradisi Islam Reformis ~ 785

DUTA PANTJASILA
Algojo Pengikis Separatis ~ 788

SASTRA
Kiri Kanan Jadi Lawan ~ 791

SINAR HARAPAN
Harga Sebuah Keberanian ~ 794

TVRI
Si Pionir yang Terengah di Pasar Siar ~ 797

BAHTERA AMPERA
Di Laut (Kapan) Kita Jaya ~ 800

INDEPENDENT TJENDRAWASIH
Menulis Irian Barat dari Jakarta ~ 803

INTISARI
Yang ‘Seksi’ yang ‘Berdisi’ ~ 806

ANGKATAN BERSENDJATA
Di Bawah Lindungan Para Jendral ~ 809

BALI POST
Dari “Pengemban Pancasila” hingga “Matahari dari Bali” ~ 812

BERDIKARI
Di Tengah Kurun Pembersihan PKI ~ 815

BERITA YUDHA
Lolos Dari Surat Keputusan ~ 818

DWIKORA
Gagal Memediasi Bung Karno dan Rakyat ~ 821

KOMPAS
Jurnalisme Anggun Dari Palmerah ~ 824

NUSA PUTERA
Yang Selamat dari Badai ~ 828

WARTA BERITA ANTARA
Lumbung Informasi, Terbit Pagi-Sore ~ 831

API ISLAM
Berwajah Islam, Berotak Pancasila ~ 835

GALA
Jitu Mengail Pengiklan ~ 838

HARIAN KAMI
Amarah dari Sebuah Angkatan ~ 841

HORISON
Di tengah Sengkarut Langit Sastra Indonesia ~ 844

KARTIKA
Pasukan Pengawal Orde Baru di Jawa Tengah ~ 847

MASA KINI
Di Kota Pelajar Membangun dan Mendidik ~ 850

MERTJU SUAR
Matahari Pagi di Jogjakarta ~ 853

PELOPOR BARU
Requiem Senja di Koran Sore ~ 856

PIKIRAN RAKYAT
Raja Koran di Tatar Pasundan ~ 859

PELOPOR JOGJA
Dua Era Membela Pancasila ~ 862

NUSA TENGGARA
Melihat Nusa Dari Cara Pandang Tenggara ~ 865

AKTUIL
Yang Kreatif yang Laris ~ 868

OPINI INDONESIA
Tukang Minyak Jualan Koran ~ 871

D&R
Ada Detektif di Pers ~ 874

ELSHINTA
“News and Talk” 24 jam Non Stop ~ 877

REVOLUSIONER
Jangan Main-main dengan Baju Loreng ~ 880

SINGGALANG
‘Jurus 4 Pendekar’ ~ 883

EKSPRES
Yang Kritis yang Dilindas ~ 886

TRUBUS
Membangun Indonesia Berswadaya ~ 889

MEDIA INDONESIA
Koran dengan Editorial yang “Galak” ~ 892

MIMBAR MASYARAKAT
Saksi Bisu Matinya Pers Indonesia ~ 895

POS KOTA
Bertarung dalam Isu-isu Urban ~ 898

SINAR INDONESIA BARU
Ramuan Sang Tabib ~ 901

KENDARI POS
Awalnya Koran Beringin ~ 905

BANJARMASIN POST
Membelah Arus Kapuas ~ 908

BERITA BUANA
Memulai Hari di Siang Bolong ~ 911

NYATA
Lebih dari Sekadar Hiburan bagi Wanita ~ 915

PRISMA
Rumah Kelahiran Cendekiawan Eksos ~ 918

SUARA KARYA
Bunyi Bising dari Balik Beringin ~ 921

TEMPO
Dari Berita ke Cerita ~ 924

FEMINA
Ratu Majalah Wanita Indonesia ~ 929

KARTINI
Pernah Seatap dengan Madonna ~ 932

MONITOR
Arswendo dan Sang Nabi di Tabloid Iher ~ 935

TOPIK
Kalem dalam Tutur Kata, Objektif dalam Berita ~ 938

DIAN
Membangun Manusia Pembangun ~ 941

HARIAN DUTA
Corong Orba di Pucuk Rencong ~ 944

LAMPUNG POST
Lampung, Pers, dan Kepercayaan ~ 947

PELITA
Bintang yang Berkali-kali Terbentur Dinding ~ 951

JAKARTA JAKARTA
Jurnalisme Sastra Fotografi ~ 954

FAJAR
Menjadi Matahari di Kota Angin Mamiri ~ 957

JAWA POS
Menanam Radar di Setiap Kota ~ 960

SARINAH
Pesona yang Tak Lekang ~ 963

THE JAKARTA POS
Dipersembahkan untuk Pembaca (Berbahasa) Asing ~ 966

BOLA
Nasionalisme di Lapangan Hijau ~ 969

BISNIS INDONESIA
Dari Bekas Bengkes Hingga Wisma ~ 972

SABILI
Mujahid Tahan Kritik ~ 975

JAMBI INDEPENDENT
Dari Satu Kantor ke Kantor Lainnya ~ 978

INFO KOMPUTER
Swalayan Maya di Musim Digital ~ 981

PONTIANAK POST
Tonggak dan Tombak Rakyat Kalimantan Barat ~ 984

PRIORITAS
Mati Dini Si Bayi Ajaib Dari Gondangdia ~ 987

HARIAN SURYA
Kala Seniman Berebut Surat Keputusan Penguasa ~ 990

WAWASAN
Koran Sore dengan Gaya Blak-blakan ~ 993

EDITOR
Membangun Indonesia dengan Kritik ~ 996

MANADO POST
Lahir dari “Baku Belante” ~ 1000

SRIWIJAYA POST
Untuk Wong Kito di Bumi Sriwijaya ~ 1003

RCTI
Televisi Pertama Swasta Indonesia ~ 1007

SUARA PEMBARUAN
Sepotong Hikayat si Pemain Pengganti ~ 1010

KALTIM POST
Dari Oost Borneo untuk Indonesia Timur ~ 1013

NOVA
Inspirasi Wanita Indonesia ~ 1016

SERAMBI INDONESIA
Bertahan dari Pelbagai Hempasan ~ 1019

WARTA EKONOMI
Memikat dan Mengikat dengan Peringkat ~ 1023

YOGYA POST
Yogya dan Kopi Sore Ala Emha ~ 1027

FORUM KEADILAN
Membincangkan Delik dan Perkara ~ 1030

ULUMUL QUR’AN
Cendekiawan Muslim Menjawab Tantangan Zaman ~ 1033

RIAU POS
Mengembalikan Kejayaan Raja Ali Haji ~ 1037

TRIJAYA
Mengudara Lebih Dari Sekadar Musik ~ 1040

POS KUPANG
Oase di Padang Gersang ~ 1043

ANTV
Lima Jam Lalu Jadi Bintang ~ 1046

DETIK
Kami Akan Tetap Berpikir Merdeka ~ 1049

CENDRAWASIH POS
Obor di Rimba Gelap Papua ~ 1052

KALTENG POS
Di Antara Rimba dan Sungai ~ 1055

REPUBLIKA
Harian Islam Generasi Ketiga ~ 1058

GATRA
Lahir dari Geger Breidel ~ 1061

KALAM
Menolak Keseragaman Kebudayaan ~ 1064

SCTV
(Dari) Satu untuk Semua ~ 1068

INDOSIAR
Awalnya Menjanjikan ~ 1072

PERSPEKTIF
Masa Depan Blog Pada Isinya ~ 1075

KONTAN
Menyuarakan Kemandirian ~ 1078

JURNAL PEREMPUAN
Dari Jurnal ke LSM Profesional ~ 1081

SOLOPOS
Koran Muda di Kuburan Pers ~ 1085

MALANG POST
Ikon di Kandang “Singo Edan” ~ 1088

DETIK.COM
Karena Waktu Jantung Informasi ~ 1091

CEK & RICEK
Baca Gosip atau Fakta ~ 1094

AMBON EKSPRES
Untuk yang Mencintai dan Menjaga Ambon ~ 1097

FLORES POS
Bertahan tanpa Naungan Konglomerasi ~ 1100

PADANG EKSPRES
Membangun Pers Lokal ~ 1103

KBR 68H
Mengudara dari Sabang sampai Merauke ~ 1106

PANTAU
Empat Format dan Sembilan Elemen Jurnalisme ~ 1110

RAKYAT MERDEKA
Kembalinya “Jurnalisme Mimbar” ~ 1113

METRO TV
Barometer Berita Tanpa Jeda ~ 1116

GAUNG NTB
Maju Terus Berkata Benar ~ 1120

LAMPU MERAH
Dari Judul Ketahuan Isi ~ 1123

TRANS TV
Ini Tentang Televisi dan Bakso ~ 1126

KORAN TEMPO
Pelopor Trend Baru Koran Kompak ~ 1129

ATVLI
Dari Aceh Sampai Papua Berjajar Layar Kaca ~ 1132

PULSA
Lembar Ragam Telepon Genggam ~ 1136

TOPSKOR
Mengolah Raga Sepanjang Kala ~ 1139

SEPUTAR INDONESIA
Datang Pagi Datang Sore ~ 1142

PANYINGKUL
Jurnalisme Warga dari Makassar ~ 1145

JURNAL NASIONAL
Mediasi Publik-Republik ~ 1148

::Selengkapnya::

Wednesday, December 31, 2008

Seabad Pers Perempuan 1908-2008

"Apa faedahnya menyekolahkan gadis-gadis? Biar diajar terbang ke langit sekalipun, kalau tidak pandai memasak nasi dan sayur, maka suaminya tidak akan menyenanginya.” Dengan kesal Soendari menanggapi, “Ah,ah, kalau memang demikian watak laki-laki, maka lebih baik dia kawini saja tukang masak Gubenur Jenderal, pastilah setiap hari dia akan makan enak.” (Raden Ayu Siti Soendari, jurnalis Poetri Hindia)

Buku ini adalah dokumentasi seabad perjalanan pers perempuan di Indonesia. Tarikh ini dihitung dari lahirnya Poetri Hindia yang terbit pertama kali pada 1 Juli 1908. Suratkabar yang didirikan Tirto Adhi Soerjo ini menjadi laboratorium sosial bagi lahirnya jurnalis-jurnalis perempuan generasi awal.

Dari biografi seratus pers perempuan inilah kita bisa menimbang kembali pelbagai anggapan lemahnya posisi tawar maupun peran strategis perempuan dalam dunia pers.

Catatan biografi pers perempuan ini menunjukan bahwa dalam kurun waktu yang demikian panjang—dari pembentukan sampai menjadi Indonesia—perempuan memainkan peran, mengambil posisi, dan bertindak di gelanggang politik, ekonomi, pendidikan, dan membangun barikade pertahanan keluarga.

Sebagai wujud dari keterlibatan semua momentum itu, buku ini dikerjakan segelitir perempuan muda dengan cara didaktik dan kronikal, merekam biografi pers-pers perempuan Indonesia dari masa ke masa (1908-2008); dari belpagai daerah, pelbagai organisasi, dan dari pelbagai bahasa (Indonesia, Jawa, Sunda Melayu, Arab, dan Belanda) yang mewarnai perjalanan sejarah pers Indonesia.

Untuk pemesanan hubungi: 081328690269 (Ria/Jakarta) dan 08886854721 (Nurul/Jogja)

Judul: Seabad Pers Perempuan: Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa
Penulis: Rhoma Dwi Aria Yuliantri, et. al.
Penerbit: I:BOEKOE, Desember 2008
Tebal: 406 hlm
Ukuran: 15x24 cm
Harga: Rp 300.000 (hardcover dan hanya dicetak terbatas)
Disc: 20%


::Selengkapnya::

Tuesday, December 30, 2008

Merayakan Tahun Baru Pesta Warisan Kolonial Belanda: Merayakan Bintang di Fort De Kock


Sekali dalam satu tahun. Pergantian tahun, selalu dirayakan dengan cara yang berbeda. Banyak yang terlewati dalam satu tahun ini. Dua tahun yang lalu saya lewati pergantian tahun dengan merampungkan skripsi, satu tahun yang lalu saya lewati tahun baru dengan tidur lelap, dan tahun ini akan saya lewati dengan berkumpul bersama keluarga & makan durian buah kesukaan kami. Pergantian tahun, selalu dimaknai dan dirayakan dengan cara sendiri-sendiri. Ada yang merayakan dengan hinggar binggar panggung hiburan. Pesta kembang api nan meriah, suara terompet, berkumpul di pusat-pusat kota, berkeliling kota, pergi keluar kota dll. Perayaan tahun baru adalah pesta warisan kolonial.

Kebiasaan merayakan pergantian ini juga menjadi kebiasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, dengan wujud berbeda tentunya. Saya memiliki data tentang perayaan tahun baru ala pemerintah kolonial ini, tepatnya di pergantian tahun 1925 di Bukit Tinggi. Dalam wujud yang berbeda, gaya perayaan tahun baru pemerintah kolonial ini menurut saya sangat unik. Bukan hanya pesta nan meriah ditandai dengan letupan kembang api, tetapi sebuah refleksi atas kerja dan dedikasi dan karya seseorang.

Bertepatan dengan 1 Januari 1925 pada hari Kamis, berkumpulah seluruh ambtenaar, kepala-kepala, penghulu-penghulu di kantor Assisten Resident, Fort de Kock yang akan merayakan tahun baru. Acaranya tidak jauh berbeda dengan acara pesta-pesta pada umumnya. Acara makan-makan dan perayaan puji-pujian. Sebelumnya pembesar-pembesar dalam golonganh Onderwijs dan Bineland Bestur menyerahkan bintang kepada mereka yang dianggap berjasa dan layak menerima penghargaan. Mereka adalah:

1.Engkoe Taib gelar Soetan Pamoentjak, Hoofdschoolopziener Voklsschool, di anoerahi bintang emas kecil. Sebagai tanda penghargaan dari toean Assistent Resident Agam dan s.p toean Inspecteur. Perlu dijelaskan tentunya bahwa beliau dianggap berjasa sela lebih 40 tahun lamanya menebarkan bibit ilmu pengetahuan, dari pengabdian mulia sebagai guru sekolah kl. II, guru Kweekschool Fort de Kock sampai pada mengemudikan Volksschool.

2.Engkoe A. Karim gelar Soetan Sjarif, Guru sekolah Osvia di Fort de Kock dianugrahi sebuah bintang perak besar. Sosok ini aktif dalam dunia pers, kelihaian pena-penanya dapat dibacai di koran-koran Melajoe.


3.Engkoe Moehd. Nazir Gelar Soetan Seripada, beliau adalah Jaksa Landraad di Ford de Kock dianugrahi bintang perak besar. Selain berjasa dalam bidang slidik menyelidik dan hukum, beliau juga ikut merintis sebuah sekolah HIS pertikelir, tempat ana-anak yang tidak diterima di HIS Goebernemen belajar.

4.Engkoe Chatib gelar Dt. Radja lelo, Kepla Malalak distrik Bukit Tinggi, dianugrahi Bintang Tembaga.
5.Hamzah gelar Dt. Batoeah, Kepala Negeri Kapau distrik Tilantang IV Angkat, dianugrahi Bintang Tembaga.
6.Soeit gelar Dt. Bandahara, Kepala Negeri Kota Melintang district Tilatang IV Angkat, dianugrahi Bintang Tembaga.
Ketiganya (No. 4,5&6) bukalah pegawai pemerintah, tetapi penghulu yang diangkat menurut adat atas kesepakatan masyarakat. Anugrah Bintang Tembaga diberikan karena jasa mereka dalam memegang dan menjalankan aturan adat.

7.Saidi gelar Soetan Menteri, seorang agen polisi yang sudah lama mengabdi dianugrahi bintang tembaga. (Disarikan dari berita Panji Poestaka 1926).

Cukup sekian, kepada para pembaca saya haturkan Selamat Tahun Baru.

::Selengkapnya::

Tuesday, December 23, 2008

Catatan Kecil: Marine Hindia


1 Desember 2008. Di museum Stovia niatnya sih mau rapat peringatan Haul Tirto. Yach apa mau dikata jadwalnya molor, memanfaatkan waktu luang saya berjalan berfoto sana-sini, miniatur kapal VOC menarik hati saya untuk berfoto di depannya.

Kapal VOC ini menginggatkan saya akan sekolah mariner tempo dulu. Saya pernah membacainya di Panji Poestaka. Pegawai Marine Hindia Belanda itoe ada bangsa Eropa ada poela bangsa Boemipoetra. Lalu bagaimana para Bumiputra ini bisa menjadi seorang mariner? bukankah kala itu hanya segelitir orang saja yang bisa bersekolah? Lalu seperti apa sekolah mariner tempo dulu?

Kweekschool voor inlandsche schepelinge/Kweekschool buat awak Bumiputra ada tak jauh dari Makasar. Di tepi laut anak-anak yang akan menjadi awak kapal mendapat pendidikan. Marilah kita berjalan-jalan melihat-lihat sekolah ini. Jika kita masuk ke pintu gerbang, sampailah dihalaman sekolah dan tampaklah enam buah kamar yang besar, tempat tidur murid-murid. Tempat tidur itu dilengkapi kelambu untuk menahan nyamuk. Di dekat tempat tidur disediakan almari, dan papan untuk menaruh sepatu. Di antara kamar tempat tidur ada kamar yang lebar, tempat makan murid-murid. Ritual makan pagi akan dilakuakn pukul 6 pagi, pukul 8.25 para murid akan mendapatkan makan yang kedua, dan pukul 12,05 makan siang. Pukul 4.30 para murid mendapat makan lagi. Jam makan yang cukup ketat bukan.

Disebelah kiri kamar makan kita lihat kamar gymnastiek dengan perkakasnya. Dibelakang kamar gymnastiek ada tempat buat mengeringkan pakaian. Berhadapan dengan ruang pengeringan, diseberang tanah lapang, adalah tujuh buah bilik tempat pengajaran Bahasa Belanda dan berhitung. Letak bilik-bilik pengajaran ini ditepi jalan raya. Dan para staf pengajarannya adalah para lulusan diploma.

Kalau kita berjalan antara tempat mengeringkan pakaian dan kamar gymnastic akan kita temui rumah pertukangan, tempat murid-murid stoker dapat pengajaran.

Di depan tempat pertukangan ada pelabuhan kecil. Disanalah perahu-perahu kepunyaan Kweekschool dapat berlabuh. Di pelabuhan itu disediakan sebuah cerocok yang menjulur ke laut.

Mari kita berjalan lagi, dari panatai kesebelah belakang kamar tempat tidur. Kita lihat beberapa bilik buat wc dan kamar mandi. Tampak juga kolam renang yang disediakan untuk murid-murid. Setelah itu kita sampai ke dapur, yang letaknya tak jauh dari ruang tempat kesehatan, kalau sekarang UKS (unit Kesehatan Sekolah).

Bumipoetra ini bisa menjadi awak mariner bukan lataran lahir dari keturunan bangsawan. Apabila memenuhi segala syarat seperti sehat badan, cukup usia dan memiliki kepandaian maka peluang untuk menjadi awak kapal Boemipoetra (Inlandsch Schepeling) pada Marine terbuka luas. Perekrutan para calon pelajar mariner ini dilakukan oleh Depertemen Marine di Betawai dan Marine Kerzerne Goebeng di Surabaya, atau Commandant van de Kweekschool voor Inlandsche Sehepelinge di Makassar atau lewat perantara amtenar besting Boemipoetra Assistent-Resident atau Resident kepala Afdeeling. Bagi Bumipotra yang berminat silahkan mendaftar??***

::Selengkapnya::

Sunday, October 19, 2008

TESTIMONI:LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU

Di era Demokrasi Terpimpin (1959-1965), langit kebudayaan Indonesia dikuasai oleh Lekra dengan mengusung panji-panji agar semuanya diabdikan untuk mencapai tujuan revolusi yang belum rampung. Buku ini mencoba mengungkap kembali apa sebenarnya yang terjadi di era yang sarat gesekan itu. (Prof. Dr. M. Syafii Maarif, guru besar sejarah, cendekiawan Muslim dan mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta penerima Magsaysay Award 2008)

Buku ini menarik terlepas dari sumber tunggal yang digunakan;memberikan informasi mengenai situasi Indonesia dari sudut pandang Harian Rakjat. Bagi sejarawan, buku ini menjadi sumber yang sangat berguna kalau mereka mau melakukan penelitian lanjut tentang peranan suratkabar, terutama pada periode Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin. Oleh karena itu, terlepas dari setuju atau tidak, buku ini merupakan salah satu buku yang sangat penting. (Dr. Anhar Gonggong,sejarawan)

Kalau mau jujur, di masa Lekra-lah budaya kerakyatan itu menemukan "masa keemasan"-nya. Hidup dan sangat bergairah. Di sana kebudayaan diarahkan sepenuhnya pada pemihakan yang jelas-tegas kepada kaum yang tertindas. Apalagi konsepsi "seni untuk Rakyat" dalam konteks yang kongkrit itu didukung oleh koran progresif seperti Harian Rakjat. Jurnalisme yang terang-terangan memproklamasikan diri berpihak pada
kaum tertindas dan menentang secara terbuka filsafat-filsafat yang meracuni kebudayaan masyarakat. Koran ini juga yang dengan sadar menyediakan pentas seluas-luasnya untuk menampung pikiran-pikiran kebudayaan seperti sajak, esei, cerita pendek, drama, dan sebagainya,yang barangkali tak dimiliki koran-koran lain untuk masanya. Buku ini berusaha menunjukan bagaimana jalan kebudayaan rakyat itu dikelola
secara seksama dengan menampilkan kekayaan wacana, refleksi, perdebatan budaya, lepas dari soal bahwa kemudian ideologi itu salah atau benar. Maka buku ini patut dibaca agar kita bisa menajamkan kembali pikiran budaya kita yang tak terlepas dari kepentingan rakyat.Sebab selama tak ada pemihakan yang jelas, selama itu pula seni untuk rakyat tak ada. (Dr. Sindhunata, budayawan dan penulis sejumlah buku)

Buku ini penting dan menarik, sebab mencerminkan hasrat generasi muda negeri ini untuk menyusuri kembali jejak sejarah bangsanya dari perspektif yang berbeda. Yaitu, dari perspektif yang lebih terbuka, lebih kritis, lebih kreatif dan lebih bersikap positif terhadap rakyat. Di sini kelihatan bahwa jika dipercaya dan diberi kesempatan, rakyat Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk memajukan dan
memakmurkan bangsanya. Sayang sekali potensi itu telah dibabat oleh segelintir penguasa yang suka berkolaborasi dengan keserakahan modal asing sambil melayani kepentingan diri-sendiri. Buku ini dapat menjadi pendorong untuk menegakkan kembali kedaulatan rakyat Indonesia. (Dr.Baskara T. Wardaya SJ, Direktur PUSDEP, Pusat sejarah dan Etika Politik, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta)

Sosialisme sebagai sumber pemihakan tani-buruh dan seni budaya pro rakyat jelata yang hilang paska 1965 kini hidup kembali. Buku ini memberikan kita jejak pemikiran dan kepedulian populis yang berbasis kerakyatan itu. (Dr. Mudji Sutrisno, penggiat budaya dan pengajar studi filsafat di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia)

Ini adalah terbitan yang memiliki makna penting bagi Indonesia di masa periode Demokrasi Terpimpin. Nilai dari buku ini adalah bahwa ia dengan sangat hati-hati menggunakan/mengumpulkan bukti untuk menyingkirkan mitos tentang Lekra yang muncul sebelumnya. Setelah buku Keith Foulcher tentang Lekra yang terbit pada 1986, tak ada lagi studi yang komprehensif tentang subjek yang paling penting ini, sehingga kita sangat berterima kasih kepada penulisnya yang memberi gambarannyang jelas tentang sejarah kebudayaan Indonesia. (Prof Dr Adrian Vickers, Professor of Southeast Asian Studies School of Languages and Cultures)

Riset ini membuka tabu; sebuah ruang ingatan yang ragu-ragu kita ketahui. Ragu karena trauma, ragu karena kegelapan, dan ragu karena hilangnya keberanian kritis untuk memeriksa masa lampau. Dengan caranya sendiri, serpihan tulisan ini mengantar kita untuk mengenal sebuah masa, tentang sebuah gerakan kebudayaan yang dengan keras kepala dan dengan kepercayaan penuh dipertahankan pemeluknya. Kisah tentang "the true believers". (Taufik Rahzen, ziarawan, kuratorsenirupa, dan penggiat festival)

(1) LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat
Penulis: Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan
Penerbit: Merekesumba, Jogjakarta
Terbit: Okt 2008, 581 halaman
Spesifikasi buku: 15 x 24 cm (tersedia softcover dan hardcover)
ISBN: 978-979-18475-0-6.
Harga (softcover): Rp 70.000; edisi hardcover dipesan ke 081-328690269

::Selengkapnya::

Telah Terbit: LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU


Telah terbit tiga buku dari riset Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan tentang gerakan kiri kebudayaan yang luar biasa bergemuruhnya selama 15 tahun menahan arus besar imperialisme modal dan intervensi asing (Amerika Serikat) hingga mereka sangsai di depan sejarah. Ketiganya adalah:

(1) LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat
15 x 24 cm; ISBN 978-979-18475-0-6; 581 halaman. Cetak massal dan bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat. Mengulas banyak hal dari sepuluh bab, seperti Garis Utama Ideologi Kebudayaan, Riwayat Harian Rakjat, Sastra, Film, Seni Rupa, Seni Pertunjukan (Ketoprak, Wayang, Drama, Ludruk, Reog), Seni Tari, Musik, dan Dunia Buku.

::Selengkapnya::

(2) GUGUR MERAH: Sehimpunan Puisi Lekra 1950 – 1965


Himpunan puisi ini adalah ikhtiar mengumpulkan sekira 450 judul puisi dari 111 penyair Lekra yang nama dan puisinya terekam di lembar kebudayaan Harian Rakjat sepanjang 15 tahun (1950-1965). 15 x 24 cm; ISBN: 978-979-18475-1-3; 966 hlm. Hanya tersedia dalam edisi terbatas (hardcover). Bisa dipesan ke 081-328690269.

::Selengkapnya::

LAPORAN DARI BAWAH: Sehimpunan Cerita Pendek Lekra 1950-1965


Buku ini merekam geliat 100 cerita pendek yang ditulis oleh eksponen budaya Lekra (sastra) untuk memberitahu bagaimana gaya realisme sosialis “ditemukan”, “diadaptasi”, dan “dipraktikkan” di lapangan kesusastraan Indonesia. 15x24 cm; ISBN 978-979-18475-2-0; 585 hlm. Hanya tersedia dalam edisi terbatas (hardcover). Silakan pesan ke 081-328690269.

::Selengkapnya::

Wednesday, May 7, 2008

Rumah Langit

Hei baru aku sadar bahwa sudah hampir satu bulan aku tiada menulis email untukmu. Ya terakhir aku memencet tuts keyboard komputer, merangkai huruf demi huruf menjadi kata, kalimat dan akhirnya paragraf untukmu adalah tanggal 6 bulan yang lalu. Selama itu sudah 3 kali kau memberiku email-email menyenangkan, khas dirimu. Sebenarnya bukan aku malas membalas, tapi lebih kepada, lagi-lagi kukakatakan aku tak tau harus berkata atau bercerita apa. Begitu beragam dan menarik semua ceritamu. Dan aku tertatih-tatih bahkan berlari terengah-engah untuk sekedar mengimbanginya. Yah meskipun kurang berhasil juga.

Baiklah mungkin itu adalah pleidoiku, karena tak kunjung aku berkirim surat via yahoo mail padamu.

Kau pasti tau kan jika kau menghubungiku lewat Indosat, salah satu tempat favoritku adalah jendela di ruang perpustakaan depan kamar para perempuan kroniek (perempuan kroniek? Sebutan yang aneh). Sebentar....belok dulu, ngomong-ngomong tentang Indosat...rasanya kita bagai dijajah oleh sebangsa penjajahan imperialisme modern, kita sebel, mangkel karna begitu sulitnya naudzubillah jika hendak menelepon murah. Yah kita sebut saja kasus 23––11. Jika PLN mencanangkan ingat 17––22, nah kita mungkin : jengkel sekaligus cinta kepada 23––11. Kembali pada jendela, (oiya kau tau novel Fira Basuki dengan judul itu – Jendela - , menurutku cukup menarik, meski tidak terlalu puitis), mbak Rhoma alias mbak Ria memberikan nama Rumah Langit. Nama yang indah. Lalu kenapa ia punya ide menamakan tempat itu Rumah Langit?

Karena disanalah kami yang terkurung dalam tembok Veteran 25 memiliki sebuah kemewahan langka... yah sebuah Jendela. Tidak istimewa jika benda yang sama aku miliki di Yogyakarta. Eh tidak bagiku jendela adalah istimewa. Kita melihat ke luar tanpa harus terlibat...di jendela kamarku aku biasa menghirup udara pagi dengan iringan...tentu saja bukan lagu Indonesia Raya, tapi lagu Sebelum Cahaya. Aku paling suka melakukannya setiap jamaah Subuh di Masjid Sulthony dekat rumahku telah kembali ke pelukan rumahnya di Bumi, setelah beberapa saat membangun rumah yang kelak diharapkan ditempati di akhirat yang kekal. Ah rumah betapa rindunya aku. Aku juga rindu pada rumahku di hatimu...kuharap kau juga begitu.

Lalu apa istimewanya Rumah Langit kami ini?disinilah mata-mata lelah kami bisa merasakan indahnya langit Jakarta yang tidak indah, yang warna birunya telah berubah menjadi putih. Laksana blue jeans yang kau rendam dalam larutan disinfektan. Tidak megapa tiada warna biru diatas kepala kami saat kami duduk nangkring di jendela itu, bahkan jika sekadar melongok keluar.

Taukah kamu?sebenaranya bentuk jendela ini sama sekali tidak istimewa. Hanya jendela kaca geser berbingkai alumunium selebar 2 meter yang terbagi dua. Salah satunya bisa digeser. Tingginya sekitar ¾ m lebih dari lantai (entahlah aku menyadari kelemahanku yang lain adalah tidak pandai memperkirakan jarak atau ukuran panjang atau lebar). Jadi jika kami ingin duduk di jendela kami harus memanjat rak buku di dekatnya (aduuh susah menjelaskannya). Tidak ada balkon indah diluarnya. Hanya ada pijakan dari beton selebar 10 cm. Jadi kami benar-benar duduk di jendela. Dibawahnya adalah atap asbes dari dapur kami dibawahnya. 3 meter dari jendela adalah tembok setinggi 4 meter pembatas antara deretan ruko di jalan Veteran dengan mabes AD tentu saja angkatan darat milik RI. Meskipun ada pembatas toh kami bisa melongok halaman markas tentara negeri kita ini jika berdiri lagi-lagi di jendela. Dari jendela jika kamu berpaling ke kiri berdiri dengan cueknya Monas lambang kejayaan bangsa ini di tahun 50-an. Ah lupa aku tentu saja juga terlihat bagian belakang dari rulo-ruko tetangga kami. Di depan kami selain markas TNI AD juga terlihat berbagai gedung yang aku tak tau apa namanya. Kalau menoleh ke kanan terlihatlah lagi-lagi bagian belakang ruko tetangga dan banyak gedung....oh ada yang menyala terang dengan hiasan lampu imut-imut yang membentuh atas rumah gadang. Itu adalah rumah makan padang di jalan Djuanda. Dibelakangnnya menjulang apartemen. Lalu jika melongok ke belakang, ah tentu saja ruang perpustakaan kami. Tepat dibawah kami ada 2 utas tali jemuran tempat kami manyantelkan baju-baju basah kami. Ugh beginilah kalo tempat yang ga didesain utuk rumah tinggal, ga ada areal khusus untuk menjemur pakaian, itu rutuk Tiesa.

Dari semua pemandangan biasa itu apa yang membuat kami suka berada di jendela?
Yah karena langit itu tadi. Ini adalah tempat paling sunyi dimana kamu bisa samar-samar melihat matahari di siang hari. Menikmati lembayung jingga langit sebelah barat di sore hari, dan jika beruntung melihat bulan di malam hari. Aha... dan tentu saja tempat paling menyenangkan menerima telepon dari seseorang yang spesial.

Rumah langitlah yang menjaga kewarasan kami. Dengan sekadar melongok melihat lagit kami merasakan indahnya langit di rumah. Mata kami sekedar rehat sejenak dari pemandangan dinding putih, komputer, tumpukan buku, dan koran. Karena rasanya damai dan menyenangkan di sanalah tempat kami merenung mendendangkan lagu-lagu kesayangan atau untuk beberapa temanku tempat memancing inspirasi keluar. Ya...inspirasi laksana siput yang bersembunyi jika dipaksa dipegang. Makanya menemukan cara bagaimana membuat sipput untuk tidak malu-malu keluar adalah sebuah berkah.

Lalu dari semua keistimewaan diatas semua ketidakindahan rumah langit apa yang membuatku menyukainya? Disanalah aku sekejap merasakan dekat denganmu. Saat pagi aku aku melihat lagit yang mulai terang, meski matahari tak tampak, aku berharap kaupun melihat lagit yang sama denganku. Saat sore mulai menyergap bumi, kuharap kaupun melihat sore yang sama denganku. Saat rembulan bermurah hati menampakkan senyumnya, aku juga berharap kau sedang menatap bulan. Jadi dalam dunia kosmik ku, aku anggap langitlah yang menyatukan kita....(tentu saja sebenarnya kita tinggal di bumi yang sama dan menghirup oksigen pula....tapi tolong jangan rusak suasana!)

Akhirnya aku berharap hatiku dan kamu disatukan oleh Langit dan diatas segalanya Sang Penguasa langit berkenan dan meridhoi untuk menjadikannya sebuah Rumah untuk kita....tempat kita merasa istimewa dan hangat.....seperti Rumah Langit kami yang sederhana tapi istimewa dan unik bagi hati kami masing-masing. (Cerita Teman sekamarku Winda Sano kepada “rumahnya hatinya” yang ku-edit ulang).

::Selengkapnya::

Sunday, April 27, 2008

UNTOLD STORY

This is deeply moving story that emerge new insight of life and very sophisticated story because it comes from marginal and vulnerable people whose presence is being denied by the society at large. We often consider them as countless one, but they are too far from our attention, our caring and our compasionite heart. However, the story tells a lot about you, me and us all - how should behave and treat other people as just the way the are. The story goes like this: “One day he is planning to retire from his job. He told his employer-Contractor of his plans to leave the house building business and live a more leisurely life with his wife enjoying his extended family. He would miss his paycheck, but he needed to retire. They could get by.

The Contractor was sorry to see his good worker go and asked if he could build just one more house as a personal favor. The Carpenter said yes, but in time it was easy to see that his heart was not in his work. He resorted to shoddy workmanship and used inferior materials. It was an unfortunate way to end his career.

When the Carpenter finished his work the builder came to inspect the house, the Contractor handed the front-door key to the Carpenter. “This is your house,” he said, “my gift to you.”

What a shock! What a shame! If he had only know he was building his own house, he would have done it all so differently. Now he had to live in the home he had built none to well.

Reflecting on this story, I can sense that it was with us. We build our lives in a distracted way, reacting rather than acting, willing to put up less than the best. At important point we do not give the job our best effort. Then with a shock we look at the situation we have created and find that we are now living in the house we have built. If we had realized, we would have done it differently.

Think of ourselves as the Carpenter. Think about our house. Each day we hammer a nail, place a board, or erect a wall. Build wisely. It is the only life we will ever build. Even if we live it for only one day more, that day deserves to be lived graciously and with dignity. The plague on the wall says, “Life is a do it-yourself project.”

Who could say it more clearly? Our life today is the result of our attitudes and choices in the past. Our life tomorrow will be the result of our attitude and choices we make today.

::Selengkapnya::

Saturday, March 29, 2008

FOR THE SHAKE OF AMBON "MANISE"

In January 19,1999 Ambon and Maluku no longer become the city of "Manise" due to sectarian conflict among the local groups. Law and order was crippled, society was polarized into groups. Thus the violence become landscape of everday life in the city, and its really humanitarian tragedy. In the mids of these situation, Ambon Express as one of the latest news paper in the region exist. Actually from the name itself is not considering as new newspaper, because long before that there already exist the similar name which so called "Suara Maluku". Its expanding of Java Post Group, one of big local newspaper in Java Island. In fact they (two newspaper) are same, it is under one company, Java Post Group. But it can be said also that they are very different from each other, in sense that each group has its own managerial system. As Eriyanto stated, in the article entitled “Media dan Konflik (Media and Conflict)” that "Suara Maluku newspaper is being separated into two groups, such as, "Suara Maluku" and "Ambon Express".

It happens that since the social conflict spread out around the area, the society break through into different sectarian groups and people divided themselves according to the religion they belong to. Those who come from Muslim may not go to Christian community, and vice versa. Each group cannot interact or communicate each other and really being isolated from other group. This kind of situation gives great impact to the local media/newspaper especially in publishing daily information. They cannot publish the newspaper because the area was being banned by its own group not to enter into other area. However it is more complicated for the journalist especially for those who come from Muslim community to do their work normally because the main office of the Newspaper is located in Kampung (village)Halong Atas, one of Christian community. Instead of being banned from each group, some of their Muslim colleagues choose to establish Ambon Ekspress, and some are decided to leave Maluku island. For the group who established "Ambon Express", they continue their work by becoming freelance in other media,such as, Forum Keadilan Magazine, Republika, Jawa Pos, ect. But it is not take so long for them to go back to their first community to form their own newspasper, which they name it "Ambon Express".

To implement their idea, in following day, May 1999, the writer together with Machfud Waliulu (Vice General Manager/Chief of Finance Suara Maluku), Elly Sutrahitu (GM Suara Maluku) and Darmosius Sosebeko (Editorial Suara Maluku) made the meeting which was scheduled by Jawa Pos group. There were also the boss of Jawa Pos Dahlan Iskan and the director HM. Alwi Hamu. The result was agreement to establish a new newspaper, "Ambon Ekspress", so that the journalist can continuously express their idealism.

Ambon Ekspress first publication was on 12 July 1999 with the press license (SIUPP) from Junus Yosfia ni 1574/MENPEN/SIUPP/1999, 30 July 1000. The umbrella of the company was PT. Ambon Press Intermedia. The first time, Ambon Ekspress was located in the boarding house of Jalan Baru no 6, Ambon. Dahlan Iskan was elected as the Chair leader, meanwhile main commissioner HM. Alwi Hamu and director Syamsu Nur. The director of the company was Wachmud Waliulu, S.E, editor in chief is Drs. Ahmad Ibrahim, vice of chief editorial Ongki Anakoda, S.H and Hamid Kasim, S.E as the redactor.

Started as weekly magazine, Ambon Ekspress was printed in Makassar under collaboration with the printing company of Harian Fajar, Makasar. The oplah was 2.500 pieces.

The articles were sent from Ambon by fax and email, edited in Makasar, and after printed to be sent via the plane or express boat PT. Pelni. During first and half year Ambon Ekspress was quickly improved. And on Tuesday, May 10, 2001, Ambon Ekspress officially became daily and printed black and white in Ambon.

Since the beginning, Ambon Ekpress has great concern to the local issues including the previous conflict in Ambon. Some political figures stated that Ambon Ekspress is “in purpose” to provoke the society who are being trapped by the conflict. Coincidently, Ambon Ekspress who created by Muslim journalist was on the position of Suara Maluku competitor. Ambon Ekspress also signified as Islam representative newspaper.

During its consistency, press in Maluku always become the spot of the sample of conflict. Press also often to be positioned as the black goat. Furthermore, Suara Maluku-Ambon Ekpress case also positioned as the part of conflict lengthening. Though most of them understood hat the conflict was caused of many players involved. That is why in order to find the better composition of opinion, there should be certain indicator, so that the provocation standard from the media could be seen clearly, as well as the case of Ambon Ekspress.

In the meeting which was held at Hotel Salak, Bogor, February 2001, facilitated by Aliansi Jurnalis Indepen (AJI) Indonesia, under collaboration with the Asian of Foundation and BBC London, the attendance were from 42 journalist and the leaders of local mass media from Maluku and North Maluku. This meeting also attended by the Head of Press Board Atmakusumah and some other leaders, like a sociologist Dr. Imam Prasodjo, from Universitas Indonesia, Kapuspen TNI MArsekal Muda Gratio Usodo, Munir from human right activist watch, Maluku governor Dr. M. Saleh Latuconsina and Jawa Pos group boss Dahlan Iskan. That was the ‘judgment day’ of Ambon Ekspress.

During the event, the writer explained that “too subjective if it is said that Ambon Ekspress daily is neutral or not provoked during the conflict. All people realize that the conflict can caused social damage including our social systems, like the government, private sector, army/police, and mass media. Conflict exist not because of the media since it is happened before reported.”

In 2001 the following meeting was held in Surabaya, there the idea came up to combine this two media between Ambon Express and Suara Maluku. They decided that both have their own office but then the articles were united. The printing company (Suara Maluku has Harris mark and Ambon Ekspress has Collor Web mark), was placed on the neutral location. With this idea, the negative image of the conflict amongst media in Maluku will be eliminated. But, this idea was dropped down. Ambon had already become fragmented into sectarian groups based on the ‘religious’ issue, no neutral place. With his headache, Dahlan Iskan said, “How if we unite the machine and be called Al-Harris. Principally, machine has no religion, only human being has it?”(Rhoma Dwi Aria Yuliantri)

::Selengkapnya::

Wednesday, March 12, 2008

Untuk Dunia Buku


Siapakah orang paling berpengaruh dalam sejarah? Untuk menjawabnya, ada baiknya Anda buka Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah terbitan Pustaka Jaya (1982). Di buku itu, bertengger pada urutan 6 dan 7, Anda akan menemukan nama Ts'ai Lun dan Johan Gutenberg. Nama pertama adalah penemu kertas, sedangkan nama selanjutnya penemu mesin cetak.

Pada mulanya adalah kertas, ditera pada lembar-lembarnya huruf-huruf, digabungkan, diberi lem, dan di-binding, walhasil jadilah buku. Buku-buku disebar ke seluruh dunia, melewati sekat pembatas, menembus waktu. Berkat buku, kehidupan pada abad-abad yang lewat bisa hadir di hadapan kita: kini dan di sini. Dengan alur itu, tak heran bila Lun dan Gutenberg masuk dalam daftar pesohor pengubah sejarah. Bukankah sejarah lahir setelah ada tulisan, dan tulisan menjadi abadi tersebab kertas dan cetakan?

Begitulah, setiap berhadapan dengan buku, kita selalu berjumpa dengan ketakjuban-ketakjuban. O, apakah dunia buku kita sama menakjubkannya dengan buku itu sendiri? Tentu saja, Saudara. Cobalah buka dan baca Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia terbitan Yayasan Lontar bekerjasama dengan Weatherhill Inc., akan Anda temui betapa tradisi aksara di Indonesia jauh lebih awal dari yang dketahui.

Anda tentu tahu kalangon, seni menulis puisi dalam tradisi Jawa Kuno. Tradisi ini telah melahirkan antara lain Ramayana (abad ke-9) dan Arjunawiwaha (abad ke-11). Atau berkunjunglah ke Tanah Bugis, di sana ada puisi epik I La Galigo atau Sureq Galigo, naskah yang hingga kini merupakan salah satu yang terpanjang di dunia. Juga sempatkanlah mampir ke Bima, ada Bo' Sangaji Kai, buku catatan raja-raja Bima selama dua abad. Mengagumkan, bukan?

Tentu kekaguman pada warisan silam saja tak cukup. Yang lebih penting adalah meneruskan tradisi itu, mencatat perkembangan dunia menakjubkan tersebut sepanjang zaman. Untunglah, di antara sekian banyak yang tak peduli, MataBaca tampil mengemban tugas itu. Lima tahun sudah majalah ini merekam jejak belantara buku Indonesia.

Terbit perdana pada Agustus 2002, Mata Baca menjumpai pembacanya saban sebulan sekali. Majalah ini terbit berkat kerja mitra Bank Naskah Gramedia dan Penerbit IndonesiaTera. Bank Naskah Gramedia merupakan bagian dari industri buku terbesar negeri ini, Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang berkediaman di Jakarta, mewakili pusat, sementara IndonesiaTera berkantor di sebuah desa di Magelang, representasi penerbitan kecil di wilayah tengah Jawa.

Pada sebuah siang di tahun 2002, di Hotel Santika Yogyakarta perwakilan kedua penerbitan itu bertemu. Pihak Bank Naskah Gramedia diwakili Theodorus J. Koekerits dan penyair Joko Pinurbo. Sementara dari pihak IndonesiaTera datang Andreas Darmanto dan direkturnya yang juga penyair, Dorothea Rosa Herliany. Seturut pengakuan Joko Pinurbo dalam MataBaca vol V/No 1/September 2006, pertemuan itu berusaha "menindaklanjuti gagasan Frans M. Parera ... tentang perlunya segera menerbitkan majalah perbukuan yang isinya bukan sekadar warta perbukuan".

Barangkali benar pengakuan itu, bahwa gagasan majalah perbukuan tersebut merupakan gagasan Frans Parera, petinggi KKG. Karena itu kemudian namanya bercokol sebagai pemimpin umum. Sementara di antara mereka yang bertemu, Dorothea Rosa Herliany menjadi wakilnya, T. Jacob Koekerits menjabat pemimpin redaksi, dan Joko Pinurbo kebagian redaktur pelaksana.

Perihal nama MataBaca sendiri, keputusan untuk memakai nama itu, demikian Pinurbo, lebih dipukau oleh pesona puitiknya ketimbang makna leksikalnya. Pada mulanya adalah nama, setelahnya baru rasionalisasi terhadap nama itu. Kata Pinurbo, rasionalisasinya adalah "Mata perlu dididik dan dibudayakan agar semakin jernih dan tajam. Agar semakin mampu melihat dan menembus dimensi-dimensi yang lebih dalam di balik hiruk-pikuk peristiwa dan riuh-rendahnya perkembangan zaman. Agar semakin tekun dan pintar membaca. Bukan sekadar membaca buku atau deretan aksara, tapi juga membaca berbagai fenomena yang bersliweran di tengah pusaran kehidupan masyarakat."

Kerjasama kedua pegiat penerbitan itu menghasilkan karya apik: kekhasan perwajahan ala penerbitan Yogyakarta yang nyeni, seperti dianut juga IndonesiaTera, jelas terlihat. Sementara, karena dicetak oleh Percetakan milik Gramedia yang canggih, wajahnya jadi terlihat lebih cantik. Tak hanya perwajahannya, isinya juga informatif. Di antara rubrikasinya ada "Gagas" yang berisi opini seputar perbukuan, "Raut" tentang tokoh atau wajah suatu penerbitan, "Warta" berita dunia buku, "Kupas" merupakan resensi buku-buku yang baru beredar, dan "Renung", sebuah kontemplasi dengan puisi.

Pada edisi-edisi awal, pembaca bisa berpartisipasi mengisi semua rubrik tersebut. Walhasil, alih-alih menyodorkan satu tema tertentu dalam satu edisi, majalah ini nyaris serupa kumpulan tulisan terserak banyak orang. Belakangan, majalah ini punya beberapa kontributor yang menuangkan tulisan-tulisan bertema sama dalam satu edisi, mengurangi jatah tulisan pembaca.

Namun demikian, majalah ini selayaknya didukung. Setidaknya alasannya adalah dia satu-satunya yang mengkaver wajah perbukuan kita. Memang selain MataBaca ada "Ruang Baca". Namun "Ruang Baca" tak lebih dari suplemen sebuah koran dan nyaris hanya berisi kumpulan resensi semata.

Kesendirian tentu tidak bisa jadi alasan untuk tidak berbenah. Perubahan adalah hal niscaya. Seiring waktu, MataBaca pun tak bisa mengabaikan hukum alam ini. Namun perubahannya sedikit membuat kita tertegun: majalah ini menjadi lebih muda dan ngepop. Karenanya dalam rasionalisasinya Joko Pinurbo menulis, "majalah ini ingin lebih mendekat ke kalangan muda, ke mata-mata muda yang diharapkan dapat ikut menciptakan keindahan manusiawi di tengah kemelut kehidupan masyarakat yang lebih gelap mata dan membabibuta." Rasionalisasi yang jelas tidak tercetus ketika terjadi pertemuan Santika.

Perubahan sejak edisi September 2005 itu tak hanya pada perwajahan dan isinya yang lebih gaul, tapi juga mereka yang berada pada kursi redaksional. Orang-orang IndonesiaTera tak lagi duduk di sana. Dan hasilnya pun jelas: ciri nyeni ala penerbitan Jogja dengan tampilan lukisan yang semula menghias tiap edisi, terutama pada kaver depan, menghilang, diganti dengan pose penulis atau pemilik penerbitan yang direkam oleh jepretan fotografer, dengan judul yang jelas ngepop: "Pram, Gue Banget!", "Kalau Seleb Jadi Penulis", "Nggak Zamannya Lagi Penulis Miskin", "Sains Gak Ada Matinye". Judul-judul itu juga diupayakan mengikat tulisan-tulisan di dalamnya, terutama di bawah rubrik "Gagas Utama".

Mengapa IndonesiaTera tidak lagi berkecimpung mengelola majalah berjargon "Jendela Dunia Pustaka" (sebelumnya: "Mencermati Dunia Pustaka") ini? Tak ada penjelasan. Yang jelas, sejak merebaknya penerbitan di Yogyakarta dan sekitarnya pascareformasi 1998, musim surut menghantui semenjak tahun 2005-an. Konon, jumlah penerbitan di Yogyakarta waktu itu mencapai ratusan. Satu per satu penerbit Yogya itu jatuh. Beberapa yang namanya kadung besar, diakuisisi oleh penerbitan dari kota lain. Termasuk IndonesiaTera yang pada penghujung 2006 dibeli oleh distributor buku besar asal Jakarta.

Bertahan di negeri dengan minat baca rendah memang bukan pekerjaan mudah, tak hanya bagi penerbitan di Yogyakarta, tetapi juga penerbitan di kota lain. Bayangkan, buku yang dicetak 1000 eksemplar saja harus melewati masa bertahun-tahun agar bisa habis dipasarkan. Buku paling laris pun, dengan tema sensasional, hanya laku puluhan ribu eksemplar. Berapa persen jumlah itu dibanding penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa?

Kendala lain adalah pertarungan antarpenerbit yang nyaris serupa arena tarung bebas dengan hukum rimba: yang kuat memangsa yang lemah. Belum lagi harga kertas yang terus melambung, iklim pemasaran yang tak berpihak pada industri kecil, serta regulasi perbukuan yang tak jelas. Dan satu lagi: tak ada badan yang memayungi semua penerbitan itu. Alih-alih menjadi pengayom dan pembina, IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) punya syarat yang tak bakal genap dipenuhi penerbitan kecil.

Serta yang terpenting: badan ini menjadi semacam event organizer pameran buku semata. Peran lain nyaris tak ada. Misalnya, ketika penerbitan kecil punya masalah ketidaktahuan atau dalam posisi tawarnya membeli rights dari penerbitan luar, tak ada upaya IKAPI memberikan diklat atau menguruskannya. Ketika ada dua penerbitan, satu kecil dan satu besar, saling bertarung atas nama hak penerjemahan, tak ada usaha IKAPI menengahi. Juga ketiadaan regulasi yang jelas, tak ada tuntutan apa pun dari badan ini kepada pemerintah. Sampai kapan langit buku Indonesia akan tetap dikurung mendung?

Sebagai satu-satunya media perbukuan di negeri ini, tentu tak salah bila kita berharap MataBaca membantu menghapus mendung itu. Sebagaimana ide awal pendirian majalah ini, "majalah perbukuan yang isinya bukan sekadar warta perbukuan", mestinya ia juga punya fungsi advokasi bagi insan perbukuan yang nyaris tak bisa berkutik. Bila harapan ini dipenuhi, tentulah bisa majalah ini dimasukkan dalam daftar pemengaruh sejarah, setidaknya sejarah negeri ini.

Entahlah, Saudara, bila ia sudah menjadi penyuara penerbitan besar itu.(Rhoma Dwi Aria Yuliantri)

::Selengkapnya::

Thursday, March 6, 2008

Dari Jurnal ke LSM Profesional


Sepulang dari mengambil Master di Ecole Haute Etudes Scientifique Sociale, Prancis pada 1994, Gadis Arivia mengajar studi feminisme dan filsafat kontemporer di Universitas Indonesia. Saat itu, mahasiswanya mengalami kesulitan lantaran bahan-bahan bacaan berbahasa Indonesia tidak banyak ditemukan. Gadis pun membuat buletin, oplah pertama berbentuk stensilan (15-20 lembar) yang dibagikan kepada para mahasiswanya yang mengikuti kuliah ”Paradigma Studi Wanita” Universitas Indonesia, dicetak sekitar 200 eksemplar dan langsung habis.

The Ford Foundation, sebuah lembaga dana Amerika Serikat, tertarik dengan buletin berisi teori dan perkembangan feminisme itu. Lembaga itu bersedia mendanai dengan syarat harus ada legalitas secara hukum. Bersama Ida Dhani, Toeti Heranty Noerhadi, Asikin Arif, dan Gadis mendirikan badan hukum yang dinamai Yayasan Jurnal Perempuan. Modalnya hanya empat juta yang segera pula dikembalikan setelah yayasan berdiri.

Mereka berempat langsung bekerja. Awalnya, JP terbit pada bulan Agustus 1996, dengan ISSN: 0854-2481, beralamatkan di ruang belajar Gadis Jl. Taman Patra V/16, Jakarta 12950. JP muncul perdana dengan lebar 21 cm dan panjang 30 cm (berbentuk panjang, sekarang berbentuk seperti buku), seharga Rp. 9.200,- dengan 98 halaman. Atau harga langganan Rp. 36.000,- per tahun. Edisi tersebut menampilkan topik utama tentang kekerasan terhadap perempuan, judul artikel utama adalah ”Mengapa Perempuan Disiksa?”.

Kelahiran JP tidak pernah direncanakans ecara matang dengan tim yang terorganisir. JP lahir dari imajinasi, keinginan untuk memiliki bacaan yang serius tentang masalah perempuan. Imajinasi Gadis adalah menerbitkan majalah perempuan seperti dalam majalah Prisma, padat dan berisi. Sejak awal tulisan di JP mengambil arah ilmiah populer, yang dapat dicerna dengan mudah tetapi tidak dangkal dan tanpa refleksi.

Redaksi JP pada awalnya adalah orang-orang yang mau bekerja secara volunteer dan meluangkan waktu untuk mengedit atau menyumbangkan tulisan untuk JP. Redaksi JP baru mulai profesional pada awal tahun 1997/1998 dengan melakukan perekrutan, membuka lowongan redaksi. Dengan kriteria yang tidak terlalu ketat, menginggat terbatasnya pengetahuan studi gender waktu itu.

Distribusi JP pun mengalami kesulitan. Ketika itu, tidak ada orang yang tertarik membeli apalagi berlangganan JP karena tidak dianggap penting. JP pun terkadang ditolak orang pemasaran, tanapa melihat kualitasnya lebih dulu, karena dianggap kurang laku dan tidak akan diminati. Ada pula yang berkilah ”harus ada jurnal laki-laki dong, baru itu namanya adil”. Pendek kata, pada awal-awal JP terjadi banyak penolakan.

Ungkap Gadis: ’Kalau jurnal kami diterima di toko buku (pada waktu itu Gramedia yang terbesar) jurnal kami ditaruh di bagian belakang bersama buku-buku ”dan lain-lain”, atau masakan. Jadi, kami harus rajin mengontrol ke toko buku dan menaruhnya sendiri di rak-rak buku yang mudah dilihat orang secara diam-diam. Sering juga saya ke toko buku dam membaca JP dengan cara provokatif, lalu mengatakan kepada calon pembeli bahwa jurnal ini bagus, saya pelanggan setia, mereka tidak tahu kalau saya dari JP.”

JP menjadi lebih terkenal sebagai organisasi pada tahun 1998 ketika beberapa anggotanya, seperti, Karlina Supelii dan Gadis Arivia ditangkap karena demonstrasi Suara Ibu Peduli.

Pada perkembangannya, ternyata jurnal ini cukup banyak diminati khalayak, sehingga menuntut penanganan yang serius, terlebih isi dan kemasannya, oplah pun bisa ditembus hingga 5000 eksemplar. Hingga akhir Desember 2003 Jurnal Perempuan mencapai edisi ke-32 dan pada Maret 2007 mencapai 52. Jurnal berukuran sebesar buku biasa ini telah pula terdistribusikan hampir di seluruh toko buku ternama di Indonesia.

Dibiayai oleh sekian lembaga dana serta perusahaan nasional dan internasional, yang mengangsur sekitar 60 persen kebutuhannya, YJP berkembang menjadi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang kini diawaki lebih 20 orang. Tak hanya menerbitakn jurnal, yayasan ini juga menerbitkan buku-buku tentang feminisme dan gerakan perempuan. Salah satunya adalah buku Filsafat Berperspektif Feminis, reproduksi dari disertasi Gadis Arivia di jurusan Filsafat UI.

Selanjutnya di tahun 1998 YJP menerima tawaran dari Internews Indonesia untuk mencoba sebuah bidang yang baru dan penuh tantangan yakni memproduksi program radio bernama Program Radio Jurnal Perempuan (PRJP) yang mengangkat berbagai isu dan persoalan perempuan khususnya di tingkat lokal.

Bila Jurnal Perempuan yang formatnya seperti majalah Granta dan bertiras 2.000 eksemplar, dikhususkan untuk segmen menengah-atas dan akademisi, program radio (102 stasiun radio) ditujukan untuk segmen menengah ke bawah. Radio memang lebih mudah diakses bahkan oleh masyarakat di pedesaan. Murah, mudah, dan dapat didengarkan kapan saja sembari tetap beraktivitas.

Program Radio Jurnal Perempuan hingga kini tetap mengudara setiap minggunya dan menyapa pendengar di Indonesia bersama 162 stasiun radio mitra kerja YJP di seluruh pelosok tanah air. Hingga kini PRJP telah menghasilkan lebih dari 200 program yang menyuarakan hak-hak perempuan dan kesetaraan gender.

Selanjutnya pada tahun 2000 YJP kembali menjajal bidang baru yakni pembuatan film dokumentasi. Divisi ini selanjutnya dinamai Video Jurnal Perempuan yang hingga saat ini telah berhasil memproduksi 3 film dokumentasi yakni “Kekerasan terhadap Perempuan”, “Perempuan di Wilayah Konflik” serta “Perdagangan Anak dan Perempuan”.

Selain lima divisi utama YJP yakni penerbitan Jurnal Perempuan, penerbitan buku-buku berperspektif gender, produksi Program Radio Jurnal Perempuan, pembuatan film dokumenter dan Program Jurnal Perempuan online, YJP juga memiliki 3 divisi pendukung lainnya: toko buku Perempuan, event organizer, dan Informasi dan Dokumentasi. Toko buku Perempuan beralamat di kantor di Yayasan Jurnal Perempuan dan buka setiap hari kerja. Di samping itu tim marketing YJP juga giat melakukan penjualan di pameran, bazar dan seminar-seminar bertema perempuan sebagai bagian dari strategi menjemput bola.

Departemen pengembangan YJP juga secara rutin menyelenggarakan event seperti diskusi rutin bulanan, kampanye, seminar, peluncuran buku, workshop dan training. YJP juga membuka kesempatan konseling bagi perempuan yang membutuhkan konsultasi, dan berbagai pihak yang membutuhkan berbagai informasi tentang isu-isu gender. Semua dalam rangka terus mensosialisasikan gagasan-gagasan gender kepada masyarakat.

Adapun acara-acara yang pernah diselenggarakan oleh YJP antara lain adalah kampanye untuk menghentikan kekerasan terhadap perempuan tiap tahunnya dalam rangka memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan, workshop perempuan di parlemen, kampanye stop perdagangan anak perempuan, training hak-hak perempuan, training gender untuk laki-laki, training jurnalisme berperspektif gender yang diselenggarakan tiap tahun, dan lain sebagainya.

Demikianlah, dari yang semula hanya menerbitkan jurnal, YJP berkembang menjadi sebuah LSM yang besar. Memang demikianlah idealnya: kerja pemikiran lewat jurnal diwujudkan dalam aksi nyata lewat gerakan. Ilmuan tidak lagi berdiri di menara gading, melainkan turun gunung membangun masyarakat.

Namun, dari penggunaan namanya, jelas yayasan ini menitikberatkan pada jurnalnya. Setelah delapan tahun usianya, Jurnal Perempuan makin mengokohkan diri di tengah gempita intelektual Indonesia yang semarak. Dan jurnal ini mampu bertahan di tengah kepungan budaya instan yang semakin pongah. Mungkin kebertahanan itu sebab ia jurnal dengan perspektif spesifik: feminisme.

Menu yang dihadirkan jurnal ini pun beragam. Isu kesetaraan perempuan dihembuskan tidak hanya lewat tulisan berat khas jurnal, tapi juga ada rubrik ”Sastra” yang berisi cerpen dan puisi. Di samping itu, juga ada ”Resensi” berisi info dan ulasan buku-buku bertema femisnisme terbaru.

Nyaris tak ada iklan di lembar jurnal berbandrol Rp. 19.000,- ini. Mungkin itu disebabkan jurnal ini banyak didukung funding. Bila berlangganan, jurnal yang terbit dua bulanan ini, berarti enam edisi dalam setahun, harganya menjadi Rp. 130.000,- untuk pulau Jawa, dan Rp. 160.000,- di luar Jawa.

Beberapa edisi telah habis di pasaran. Bagaimana bila ingin membacanya? Silakan datang ke Informasi dan Dokumentasi (Indok) YJP. Bagi Anda yang tidak mukim di Jakarta, bisa mengaksesnya di menu Indok pada situs www.yjp.or.id. Tapi akses itu tidak gratis. Anda dibebani biaya Rp. 25.000,- per tahun untuk membukanya. Biaya yang tak seberapa, dibanding ilmu yang bisa ditangguk dari dalamnya. (Rhoma Dwi Aria Yilantri/Indonesia Buku)

::Selengkapnya::

Monday, February 25, 2008

Chikung dan Insomnia

Tidur mengendalikan irama kehidupan kita sehari-hari. Masalah tidur kerap dikenal dengan istilah Insomnia. Beberapa waktu lalu gejala Insomnia mulai menjakitiku. Tanpa tidur sama sekali dan tanpa tanda-tanda mengantuk. Rasa kantuk baru akan datang ketika menjelang subuh, karena takut melampaui waktu subuh lalu kuputuskan untuk tidak tidur. Tiga hari sudah Insomnia menemaniku. Konon kabarnya cara termudah mengatasi Insomnia adalah diatasi oleh individu yang bersangkutan, diagnosis diri(self diagnosis). Lalu pagi ini kutaklukan waktuku, melalui salat Subuh lalu kulangkahkan kaki menuju Monas dan kembali bertemu klub "Chikung" Tionghoa, semacam Yoga bergerak. "Chikung dan Insomnia" entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas "Chikung" memberi ketenangan tersendiri demi kembali bertemu dengan mimpiku.



::Selengkapnya::

Friday, February 22, 2008

Kalau Novel Berbicara Sejarah

“Aku berharap aku bisa mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan kepada siapa pun sebelumnya, aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku.”—Anne Frank.

Saat menuliskan itu pada Jumat 12 Juni 1942, Anne Frank tepat berusia 13 tahun. Di hari ulang tahunnya itu, Anne mendapatkan kado sebuah buku harian sebagai hadiah, selain blus biru, mainan, sebotol jus anggur yang rasanya mirip wine, puzzle, uang 2,50 gulden, dan voucher seharga dua buah buku dari kedua orangtuanya. Dari kesemua hadiah itu, buku catatan harianlah yang paling dia suka. Anne menulis, “Pertama kali yang aku lihat adalah kamu, dan mungkin yang paling indah di antara semua yang ada.” Sejak itu Anne mulai menulis buku harian.

Anne Frank yang menulis catatan harian hingga usia 15 tahun menuliskan apa pun yang ia suka dan tak ia suka. Ia menulis apa adanya, tanpa paksaan. Ia menulis tentang keluarganya, ketaksukaannya pada ibunya, tentang teman-temannya, tentang perubahan dirinya yang beranjak remaja, termasuk bahkan tentang daftar belanjaan yang ia beli. Memang semula Anne menulis untuk dirinya sendiri, tanpa maksud apa pun.

Suatu ketika pada 1944 Anne mendengar sebuah stasiun radio di London menyiarkan pidato Gerrit Balkestein, seorang pejabat pemerintah Belanda yang hidup di pengasingan. Dalam pidato itu, Gerrit berniat mengumpulkan berbagai catatan saksi sejarah penderitaan rakyat Belanda semasa penjajahan Jerman. Termasuk di dalam catatan yang dimaksud Gerrit adalah surat dan catatan harian. Pidato itu mengilhami Anne untuk ikut-ikutan menerbitkan sebuah buku berdasarkan catatan hariannya. “Kelak bila perang usai,” harap Anne. Maka ia pun mulai menyortir beberapa bagian yang dianggap tidak menarik dan menambahkan beberapa hal sesuai yang dia ingat. Dan dalam waktu yang sama, ia tetap menulis di buku hariannya yang lama.

Anne terakhir menulis catatan harian pada 1 Agustus 1944. Tiga hari kemudian, delapan orang yang bersembunyi di Secret Annex ditangkap. Miep Gies dan Bep Voskuijl, dua orang sekretaris yang bekerja di gedung itu, menemukan catatan harian Anne berserakan di lantai. Demi keamanan, mereka menyimpannya di laci meja hingga perang usai. Sayang, sebelum buku itu terbit Anne keburu meninggal.

Otto Frank, ayah Anne, setelah meninbang-nimbang, berniat mewujudkan keinginan anaknya menerbitkan catatan harian. Dia pun melakukan seleksi, menyortir, dan membuat edisi ringkas. Edisi “suntingan” Otto inilah yang terbit pada 1947. Beberapa bagian dari catatan Anne dibuang di situ, seperti catatan tentang seksualitas. Kala itu, seks masih tabu diperbincangkan di hadapan public Jawatan Dokumentasi Perang Belanda yang bermarkas di Amsterdam, setelah memeroleh hak waris dari Otto untuk buku Anne, melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap isi buku harian Anne. Setelah melampaui proses penyelidikan yang melelahkan, buku harian Anne terbukti asli. Hasil penyelidikan inilah yang kemudian dikenal sebagai The Critical Edition of the Diary of a Young Girl.

"The 1965 revolt in Indonesia led to the deaths of hundreds of thousands of people accused of communist associations. Tohari asks why there are so few Indonesian writers who address this tragedy?”
“The Moral Responsibility of Indonesian Writers in Dealing with the Human Tragedy in PKI 1965 Revolt” ( http://www.ideaandsociety.acr.edu/pdfs/tohari.pdf/ )

Ahmad Tohari masih pemuda waktu itu. Setamat SMAN II Purwokerto, Tohari menjajal berbagai fakultas seperti ekonomi, sosial politik, dan kedokteran. Tak satu pun yang ia selesaikan. Tohari kemudian memilih menjadi wartawan di harian Merdeka Jakarta. Sebagai wartawan, Tohari dituntut untuk menjelaskan dan memberitakan fakta kepada khalayak umum.

Namun, dari sekian hal yang ia ketahui, yang mesti dibeberkan pada khalayak, ada satu hal yang ia sembunyikan. Bukan karena tak mau menyampaikan, malah membeberkannya yang ingin ia lakukan. Namun Tohari bingung dengan cara-nya. Kala itu Orde Baru tengah kuat-kuatnya mencengkeramkan kuku kekuasaannya di republik ini. Tohari menyadari betul itu. Dia tak mau berlaku gegabah, karena gegabah berarti kehilangan kesempatan menjadi agen sejarah.

Berbekal mesin ketik Tohari pun pulang ke kampung halamannya di kaki Gunung Slamet, meninggalkan pekerjaannya, menjaga jarak dengan hingar-bingar politik di Jakarta. Niatnya hanya satu: menuliskan apa yang harus ia tulis, yang menjadi kegelisahannya sejak lama—semacam nubuwat. Namun bukannya menulis fakta yang ia lakukan, Tohari malah menulis fiksi, sebuah cerita panjang, sebuah novel. Tohari tidak menjadi orang dengan keinginan mengumbar fakta sejarah—menjadi sejarawan, dia malah menjadi sastrawan, tukang cerita. “Ini strategi,” kata Tohari dalam sebuah perjumpaan dengan penulis.

Maka kita pun dapat membaca dalam karangan Tohari:

“Diperlukan kondisi-kondisi tertentu agar orang bisa membuka catatan lengkap itu. Kondisi-kondisi itu bisa jadi berupa waktu yang mampu mencairkan segala emosi. Atau kedewasaan sikap dan kejujuran agar orang memiliki keberanian mengakui kebenaran sejarah. Maka pada suatu ketika orang dapat membuka catatan tentang Srintil. Atau catatan itu bakal lenyap selama-lamanya menjadi bagian rahasia kehidupan Dukuh Paruk.”

Tapi kuku kekuasaan ternyata masih terlampau jeli membaca strategi itu. Tohari ditangkap dan disekap selama beberapa hari. Tohari diinterogasi, dan novel yang ia tulis pun mesti dihilangkan beberapa bagiannya. Kelak, 22 tahun kemudian, setelah rezim Orde Baru jatuh, 11 halaman yang dihilangkan itu tampil kembali seperti dimaui Tohari. Novel yang pincang selama dua dekade lebih itu utuh lagi.

Begitulah kalau novel berbicara sejarah. “Sejarah itu kan, pribadi-pribadi yang bikin. Terserah yang bikinnya saja”, kata Pram.

::Selengkapnya::